Menurut imam al Qusairy terjadi ketidaksepakatan di kalangan sufistik, tentang apakah diperbolehkan bagi seorang hamba untuk menyadari bahwa dirinya adalah seorang waliyullah atau bukan.Sebahagian sufistik tidak membolehkan, karena waliyullah itu harus selalu mengintrospeksi dirinya, dengan pandangan penuh hina terhadap dirinya sendiri.Waliyullah merasa takut dengan karomah yang terjadi pada dirinya, ia takut jika karomah itu merupakan godaan terhadap keadaan batinnya. Para sufistik yang berpandangan seperti itu, menjadikan syarat kewalian, harus senantiasa selaras dengan keteguhan batinnya, hingga akhir hayatnya.
Sedangkan sebahagian sufistik yang lain, mengatakan, boleh saja seorang waliyullah mengetahui bahwa dirinya adalah waliyullah, dengan syarat kewalian itu tetap dapat dijaganya sampai akhir hayat sang waliyullah itu.
Di dalam hadits qudsi, yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Tirmdzi, dan imam al Hakim, dari Aisyah Ummul Mu’minin, Rasulullah Saw bersabda: bahwa Allah Swt berfirman : “Siapapun yang menyakiti waliyullah, berarti telah menyatakan perang terhadap-Ku. Seorang hamba bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan kewajiban kewajiban yang telah Kuperintahkan kepadanya, dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan amalan sunnat sampai Aku mencintainya…”
Waliyullah terkadang atas izin dan anugrah dari Allah Swt, diperkenankan untuk mengetahui realitas tertentu di masa depan dengan tetap konsisten pada kekinian kehidupan waliyullah tersebut. Dan hal seperti itu adalah bagian dari karamah.
Ibrahim bin Adzham pernah bertanya kepada seseorang hamba yang ingin menjadi waliyullah, maka ia mengatakan kepada hamba itu, “kosongkanlah dirimu dari menginginkan harta duniawiah, fokuslah hanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, agar Dia memperhatikanmu dan menjadikanmu sebagai waliyullah.” Wallahu’alam.




