Benarkah, Aceh (Arab, Cina, Eropa dan Hindia)

Mungkin ada yang bertanya, apa benar kata “Aceh” merupakan akronim, yakni; A – Arab, C – Cina, E – Eropa dan H – Hindia. Persepsi ini familiar di masyarakat, bahwa orang Aceh berasal dari empat bangsa.

Apakah, penyebutan itu hanya sekedar “kategoris” atau hanya sekedar ” sinopsis” saja. Terlepas, benar atau tidak akronim itu. Tetapi, banyak yang tidak setuju, sebab tidak punya dasar yang kuat.

Sepertinya, penyebutan kata “Aceh” sebagai akronim telah berlangsung lama. Ketika, saya masih remaja persepsi itu sudah ada. Sangat mungkin, penyebutan itu telah ada jauh sebelum saya lahir.

Mengenai “face” orang Aceh, memang berbeda – beda. Beda daerah, beda “face” nya. Karena berbeda “face”, itulah barangkali kenapa kata “Aceh” disebut akronim, yakni; gabungan bangsa Arab, Cina, Eropa dan Hindia.

Apabila, kata “Aceh” disebut akronim. Tentu saja, kesimpulan ini keliru, meskipun “face” orang Aceh variatif, dan ada kemiripan dengan bangsa Arab, Cina, Eropa dan Hindia. Kemiripan itu, tidak otomatis kata “Aceh” merupakan akronim.

Persepsi kata “Aceh” sebagai akronim harus diuji dalam sejarah, apakah benar seperti itu, atau hanya sekedar “kategoris” dan “tabulasi” saja. Atau, hanya sekedar untuk “menyocokkan” saja, bahwa kata “Aceh” merupakan sebuah akronim.

Mari kita uji dalam sejarah, meski tulisan ini singkat, setidaknya dapat membuka cakrawala kita tentang kata “Aceh”. Tentu saja, ada banyak hasil riset tentang kata “Aceh”, disini hanya disebutkan sebagian saja.

Menurut Tome Pires, kata “Aceh” dieja “Achei” (regno dachet). Lalu, pada abad, 16, 17 dan 18 M, yaitu; “Achem”, “Achin”, “Atchin”. Kata LC Damais, mestinya ditulis “Acih”.

Dalam huruf Arab pada naskah Melayu abad 17, yakni; “Ac.h” Kemudian, pada abad 19 telah ditulis “Atjeh”, terutama Snouckn Hurgronje pada risetnya diberi judul “De Atjehers”.

Memang,Teungku Kutakarang pernah menyebut bahwa orang Aceh berasal dari tiga bangsa, yakni; Arab, Parsi dan Turki. Hipotesis Teungku Chik ini, tentu membatalkan hipotesis akronim Aceh berasal dari bangsa Arab, Cina, Eropa dan Hindia.

Uniknya lagi, hipotesis Teungku Kutakarang itu, dengan sangat terburu – buru dibatalkan oleh Snouck Hurgronje dan Denis Lombard. Mereka berdua tidak setuju dengan hipotesis Teungku Kutakarang.

Snouck Hurgronje tidak setuju, bahkan Denis Lombard lebih kritis. Katanya, apa yang dikatakan Teungku Kutakarang itu tentang asal usul orang Aceh hanya untuk melawan bangsa Eropa.

Denis Lombard menegaskan, pernyataan orang Aceh lahir dari bangsa Arab, Parsi dan Turki diciptakan belum lama. Karena, diantara penduduk Pasai pada mulanya terdapat sejumlah orang Benggali. Dan pedagang India dan Timur Tengah ada yang memegang peranan penting dalam terbentuknya Aceh.

Analisis faktual diungkapkan Hamka, ia mengidentifikasi, bahwa wajah orang Aceh menyerupai Arab, Pakistan dan Turki. Apa yang dikatakan Hamka mirip dengan pernyataan Teungku Kutakarang diatas.

Snouck Hurgronje menimpali, bahwa etnis Aceh sebagian berasal dari Campa, hal ini dikaitkan dengan bahasa yang digunakan etnis Aceh, banyak persamaan dengan bangsa Campa di Vietnam atau bangsa Mon Khmer di Kamboja.

Selain itu, dikisahkan juga, bahwa pasukan Liang Kie dari Cina pernah menaklukkan kerajaan Indra Daya di Aceh, kemudian kerajaan itu diganti nama menjadi kerajaan Seudu.

Belakangan, putri Nian Nio Lian Kie dari Cina itu kalah perang di Aceh, akhirnya menikah dengan Meurah Johan. Nama putri Nian Nio Lian Kie, di Aceh populer dengan nama Putroe Neng.

Apakah, Putroe Neng dan pasukannya dari Cina, yang kemudian membentuk orang Aceh. Tentu, pertanyaan ini perlu di riset ulang.

Berkenaan dengan asal usul etnis Aceh, memang sukar diindentifikasi. Kesimpulan tokoh dan penulis, selalu menyisakan pertanyaan dan tidak memuaskan banyak orang.

Karena sukar diindentifikasi asal usul etnis Aceh, Julius Jacob angkat bicara, menurutnya bahwa orang Aceh adalah suatu “anthropologis mixtum”, atau percampuran darah yang berasal dari berbagai suku bangsa pendatang.

Meski banyak pandangan tentang Aceh. Tentu saja, kata “Aceh” bukanlah akronim, yang merupakan singkatan dari Arab, Cina, Eropa dan Hindia.

Mengenai asal usul etnis Aceh, perlu kiranya dilakukan riset gelombang – gelombang genetik seperti riset yang dilakukan terhadap bangsa Eropa, dimana sejumlah ilmuwan menyimpulkan, bahwa bangsa Eropa mewarisi genetik Timur Dekat dengan berbagai nasab. Dengan riset genetik, maka akan terjawab asal usul etnis Aceh.

73
SHARES
1.4k
VIEWS

Related Posts

Comments 4

  1. 2567 457233Several thanks for sharing this fine piece. Extremely intriguing suggestions! (as always, btw) 848480

  2. DevOps says:

    171609 298916Hello! I just would like to give a huge thumbs up for the excellent information youve here on this post. I may well be coming back to your weblog for far more soon. 166785

  3. 8149 919256There is noticeably a bundle to learn about this. I assume you created specific nice points in attributes also. 324540

  4. 195247 394312fantastic work Excellent weblog here! Also your internet website a whole lot up quickly! What web host are you the usage of? Can I get your associate link on your host? I want my site loaded up as fast as yours lol 306028

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts