NO HOPE NO POWER, artinya tanpa harapan, tidak akan ada kekuatan. Artinya, akar kekuatan itu adalah harapan. Siapapun yang tergerus harapanya, maka terdegradasilah kekuatannya. Dan jika menginginkan kekuatan terus menjadi pendamping kehidupan, tumbuhkan, rawat dan jaga berbagai harapan.
Hamba yang tidak memiliki harapan, identik dengan kehilangan terhadap keseluruhan dari yang dimilikinya. John C Maxwell mengatakan, “Where there is no hope in the future, there is no power in the present.” Artinya, “Jika tidak ada harapan akan hari esok, niscaya tidak akan ada kekuatan untuk hari ini.”
Para hamba yang memiliki kekuatan pada hari ini, adalah para hamba yang memiliki harapan pada hari esok.Daya ikatan yang kuat terhadap harapan, adalah mu’alaq (bergantung) kepada Allah swt., karena Allah swt adalah al Shamad, yaitu tempat para hamba mengadu, memohon, dan menggantungkan berbagai harapan. Dengan harapan harapan para hamba, Allah swt akan melapangkan para hamba, agar tidak selalu berada di dalam kesempitan.
Dan dengan harapan harapan pula, Allah swt akan menyempitkan bagi para hamba, agar tidak hanyut di dalam kelapangan.Dan pada suatu waktu, Allah swt akan melepaskan para hamba dari kelapangan dan kesempitan, agar para hamba tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah swt semata.
Dengan berbagai harapan yang dimiliki oleh para hamba, Allah swt., merubah rubah keadaan para hamba. Keadaan para hamba dirubah dari sedih ke gembira, dari gembira ke sedih, dari sakit ke sehat, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari miskin ke kaya, dari terang ke gelap, dari gelap ke terang, dari bahagia ke menderita, dari menderita ke bahagia, kesemua itu dimaksudkan, agar para hamba memahami dengan baik, bahwa para hamba itu tidak bebas dari garis sunatullah.
Dengan demikian, pelbagai harapan para hamba yang beriman, selalu berpijak pada landasan pacu “Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah” Artinya, “Tidak ada daya kekuatan (untuk mewujudkan harapan), melainkan dengan daya dan kekuatan Allah swt.”
Berdasarkan landasan pacu harapan yang seperti itu, para hamba tidak lagi bersedih hati terhadap harapan harapan yang terlepas dari genggaman tangannya, dan tidak pula euforia atas harapan harapan yang berhasil digapainya. Dalam tingkat tatanan tertentu, para ‘arifin, jika merasa leluasa mengelola harapan harapanya, ia menjadi gelisah, jika dibandingkan dengan keadaan berada di dalam kesempitan.
Mengapa di dalam masa lapang untuk mengelola harapan para ‘arifin menjadi lemah dan gelisah ? Karena di dalam masa kelapangan itu, hawa nafsu dapat mengambil perannya secara leluasa, hawa nafsu menyusup lebur di dalam suasana bahagia dalam pencapaian harapan.Dan hal itu sangat diwaspadai oleh para ‘arifin.
Bagi para ‘arifin, suasana sulit mengelola pelbagai harapan, merupakan celah sempit bagi hawa nafsu untuk memperdaya. Dengan demikian, para ‘arifin lebih mudah dalam memfilter mana harapan harapan yang prioritas untuk dikelola. Selanjutnya, jika para hamba berpengharapan kepada kemuliaan yang tidak rusak, maka janganlah berpengharapan kepada kemuliaan yang rusak.
Teruslah hidup dengan berpengharapan, karena hal itu pertanda bahwa kita masih menjadi bahagiaan dari para hamba yang memiliki kekuatan.Dengan kekuatan itu, para hamba, diharapkan bisa mengemban tugas mengabdi dan berbakti kepada Allah swt dengan sempurna, guna melahirkan banyak kemashlahatan di atas panggung kehidupan duniawiah.Wallahu’alam




