Warid secara kebahasaan artinya adalah bisikan. Di dalam terminologi tasawuf, artinya adalah bisikan dalam hati yang merupakan bisikan terpuji yang hadir di dalam batin seorang hamba tanpa diduga duga.
Warid datang dari Allah Swt dan terkadang juga muncul dari intuisi ilmu dan pengetahuan. Bisikan bisikan terpuji (al waridaat) sifatnya lebih umum bila dibandingkan dengan al khawathir. Karena bisikan al khawathir hanya khusus bagi sejenis perintah atau yang searti dengannya.
Sedangkan warid lebih kearah bisikan kegembiraan atau sebaliknya yaitu kesedihan dan kenestapaan. Adapun tentang Syahid, dimaknai oleh para sufistik sebagai seuatu yang hadir di dalam batin seorang hamba. Sesuatu yang pada umumnya seorang hamba tiba tiba ingat, dan seakan akan ia melihat dan memandangnya, mesikipun objek yang dipandangnya itu tidak ada dihadapannya.
Segala sesuatu yang dominan di dalam batin seorang hamba, maka sejatinya ia menyaksikannya, jika yang dominan di dalam batinnya adalah ilmu, maka sejatinya ia menyaksikan ilmu itu.
Begitu pula jika yang disaksikannya adalah luapan nikmat kelezatan ruhani, maka ia menyaksikan al wujd.
Al Syahid arti sesungguhnya adalah al haadhir (hadir), dengan demikian, setiap yang hadir di dalam batin seorang hamba maka dia menjadi bukti dari eksistensi hamba tersebut.
Seorang sufi besar yang bernama al Syibli pernah ditanya tentang bagaimana musyahadah didapatkan oleh seorang hamba Allah, padahal Allah Swt Yang Maha Haq menyaksikan kita ? Maka ia menjawab, dengan kata :”Allah Swt Yang Maha Menyaksikan, dengan menggunakan faktor dominan di dalam batinnya.” Artinya, seorang hamba Allah menyaksikan Allah (syaahid) dengan seolah olah ia melihat Allah pada saat ia beribadah kepada Allah Swt, Jelas hamba tidak bisa melihat Allah Swt , tetapi hamba yakin Allah swt melihatnya (ihsan) Wallahu’alam




