Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee , nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA (lahir di Aek Kanopan, Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara, tanggal 19 Juli 1967, umur 53 tahun). Ia adalah salah seorang Muhaditsun (ulama hadits) di Indonesia dan juga Sufistik. Pendiri MASHRAH LAMPOH IRENG, yaitu Lembaga Majelis Studi Hadits dan Ratib Haddadiyah Lampoh Ireng Kota Langsa.

Ketua Majelis Permusyawaratan (MPU) Kota Langsa tahun 2014-2019, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Langsa tahun 2010 sampai dengan sekarang . Ia pengajar mata kuliah Hadits – Hadits Ahkam pada program pascasarjana IAIN Langsa , penulis buku dan journal ilmiah , di samping itu ia juga seorang Da’i yang populer.

Abu Chik Diglee adalah sebuah kunyah atau nama panggilan yang biasa disematkan orang lain atau masyarakat kepada seseorang, berkaitan dengan sesuatu yang melekat pada dirinya yang didasarkan pada khazanah kebahasaan Arab yang kemudian terserap menjadi bahagian dari tradisi baik di dalam kehidupan budaya ummat Islam.

Abu Chik Diglee memiliki darah campuran Aceh-Jawa, darah Aceh mengalir melalui garis ayah dari pihak kakek (Nek Agam), yaitu Tgk. Muhammad Nasim Paloh, yang berasal dari gampong Paloh Naleung kabupaten Pidie, Kakek Abu Chik Diglee adalah seorang imum tentara pejuang angkatan 45 yang gugur dalam pertempuran melawan penjajahan Belanda dalam rentang wilayah pertempuran antara Geubang dan sungai ular di Sumatera Utara, dalam peristiwa agresi militer kedua yang dilakukan tentara Belanda.

Dari garis Nenek (Nek Inong) pihak ayah, Abu Chik Diglee Berdarah Jawa, karena nenek Abu Chik Diglee yang bernama Paini Binti Wonowidjoyo bersuku Jawa, berasal dari Banyumas Jawa Tengah.

Ayah Abu Chik Diglee bernama Soebroto Bin Tgk. Muhammad Nasim Paloh Bin Tgk. Khalil Idrisyah Paloh Bin Tgk. Ibrahim Nahwarsyah Babah Jurong Kuta Baro Bin Tgk. Syekh Dulat Sa’id Babah Jurong Kuta Baro Bin Tgk. Kudrat Guptasyah Khurasani Bin Tgk. Jalaluddin Abdul Kadir Khurasani Bin Tgk. Abdullah Kubra Khurasani. Ayah Abu Chik Diglee adalah mantan sukarelawan pejuang pembebasan Irian Barat. Ibunya bernama Sukati berdarah ningrat (bangsawan) Jawa, karena kakek Abu Chik Diglee dari pihak Ibu adalah seorang perwira menengah kepolisian yang pernah berdinas di wilayah Gunung Tua dan Aek Kanopan provinsi Sumatera Utara.

Kakek Abu Chik Diglee dari pihak ibu bernama Raden Soepangkat Sastrososilo, yang silsilah nasabnya sampai kepada Sunan Geseng (salah seorang wali di tanah Jawa) dan Kiyai Bagelen, salah seorang tokoh besar dan bangsawan berpengaruh dari kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Pendidikan Formal Abu Chik Diglee, Sekolah Dasar, diselesaikan di SD Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di SMP Negeri V Langsa, Kota Langsa, Sekolah Menengah Atas diselesaikan di SMA Negeri Satu Langsa, Kota Langsa. Sarjana Strata Satu diselesaikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Ushuluddin dalam bidang Ilmu Perbandingan Agama. Strata Dua dan Strata Tiga diselesaikan di Universitas Islam Sumatera Utara, masing masing dalam bidang Pengkajian Islam dan Hukum Islam.

Pendidikan agama non formal ditempuh oleh Abu Chik Diglee dengan berguru langsung kepada Abu Yusuf Kreutlintang, salah seorang ulama kharismatik Aceh terutama di wilayah Aceh Timur Raya.

Abu Chik Diglee belajar tentangTauhid Ahlusunnah wal jama’ah, yaitu ; aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, fikih mazhab Syafi’i dan fikih empat madzhab serta Bahasa Arab selama enam tahun kepada Abu Yusuf Kreutlintang, Allahu Swt yarham, pada saat beliau menjadi Ketua Majelis Ulama Aceh Timur Raya.

Abu Chik Diglee, melanjutkan pelajaran agamanya pada Ma’had ‘Ali, yaitu ; Ma’had Hajjah Nuriyah Shabran di Makam Haji Surakarta Jawa Tengah. Bersamaan dengan itu juga menimba ilmu sebagai Santri Ngalong (santri tidak mondok) di pesantren ma’ahid Jamsaren, mengikuti pendalaman beberapa kitab fikih madzhab Syafi’i seperti kitab Tuhfah, I’anatuthalibin, Mahalli, al Adzkar, Majmu’ Syarah al Muhadzab Imam Nawawiy dan lain lain.

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts