Dinasti Pereulak Leluhur Yang Agung

Ketika disebut nama “Pereulak’, ingatan kita seperti memutar arah jarum jam sejarah Nusantara. Dan seakan – akan menyaksikan peradaban Pereulak abad 9 Masehi.

Nama “Pereulak” telah dikenal jauh sebelum Islam datang. Namanya populer di manca negara, karena wilayah ini banyak ditumbuhi pohon “perlak” atau “kayei perlak”. Makanya, wilayah ini dikenal dan diberi nama “Pereulak”.

Dulu, sejak raja Salman, Syahir Nuwi, dan hingga era “milenial”, “revolusi industri 4.0” serta “disruption”, nama “Pereulak” tidak berubah. Wilayah ini tetap disebut ‘Pereulak”.

Dinasti Pereulak yang dikenal agung dan pusat ilmu di Asia Tenggara. Belakangan, terjadi penyusutan otoritas setelah di “mix” dengan Pasai abad 13 M. Sekarang, nama “Pereulak” dilekatkan pada nama kecamatan.

Pereulak — nama bersejarah—bukan nama yang muncul di era milenial, atau nama yang terbentuk di zaman Hindia Belanda. Perlu diketahui, nama “Pereulak” berasal dari masa yang sangat panjang. Pereulak, nama sebuah dinasti Islam. Dan tertua dari kerajaan Pasai dan Aceh.

Dinasti Pereulak, layak disematkan sebagai “leluhur yang agung”, dan predikat ini pantas diberikan. Mengingat “Pereulak” tanah mulia dan dimuliakan.

Sultan dinasti Pereulak yang pertama Sultan Alaiddin Syah, ia memformalkan dinasti ini menjadi monarchi Islam pertama ditengah peradaban Hindu di Aceh. Kerajaan Hindu di Aceh, seperti; kerajaan Indra Purba, Indra Purwa, Indra Patra, Indra Puri, dan Indra Daya.

Pereulak tanah mulia dan titik nol Islam di Nusantara. Maka, dinasti Pereulak dapat dikatakan ” leluhur yang agung”. Dan pantas predikat ini lengketkan pada dinasti ini.

Predikat diatas, tidak secara genetik, karena Pereulak bukan asal usul orang Aceh. Tetapi lebih kepada tanah mulia, dimana Islam datang pertama sekali.

Dari Pereulak Islam disebarkan ke Pasai, Aceh Besar dan wilayah lain di Nusantara. Diantara penyebar Islam, yakni; meurah Johan dan Teungku Chik Abdulllah Kan’an, mereka menerima perintah sultan Pereulak membantu kerajaan Indra Purba.

Sementara, Malik as Salih, sultan Pasai belajar Islam di Pereulak, bahkan sultan ini mempersunting salah satu putri dari dinasti Pereulak. Pernikahan tersebut, sepertinya akan membuka jalan integrasi Pereulak dan Pasai di kemudian hari.

Masyarakat domestik dan manca negara melakukan perjalanan untuk menimba ilmu di Pereulak. Tradisi “rihlah ilmiah” atau “travelling akademis” menjadi “trend” ditengah masyarakat kala itu. Mereka belajar dan mendalami ilmu agama di Pereulak.

Pereulak masih tetap pusat peradaban meski otoritas dinasti telah di “mix”, atau dilebur dengan Pasai. Dan masih banyak yang menimba ilmu, seperti beberapa orang dari Wali Songo belajar di “Zawiyah Cot Kala”. Mereka adalah Sunan Bonang, Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati.

Berkaitan dengan dinasti Islam Pereulak beserta pusat peradabannya dapat dibaca pada buku “Zawiyah Cot Kala : Sejarah Pendidikan Islam yang Hilang di Nusantara”, terbitan tahun 2019, yang ditulis oleh Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, MA.

294
SHARES
374
VIEWS

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts