Lembaga Yudikatif Mahasiswa

 

YESTERDAY, hari sabtu, 21 November 2020. Saya diminta menjadi nara sumber oleh ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa dalam acara MAKTAB JURISDIKSI di Fish Coffee, Langsa.

ALHAMDULILAH, saya hadir untuk penuhi permintaan Ketua SEMA, Teuku Saipul Hadi. Saya katakan, adinda Saipul, “saya tidak lama disini”, karena ada beberapa agenda lain yang mesti saya penuhi.

ALHAMDULILLAH, Ketua SEMA dapat memahaminya. Begitu juga dengan peserta MAKTAB JURISDIKSI.

Sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswan dan Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa, saya senang melihat mahasiswa kreatif, brilian, dialogis, dan selalu up grade kualitasnya.

Manariknya, acara MAKTAB JURISDIKSI itu bertemakan ” Menciptakan Badan Deliberatif Ormawa Berintegritas”. Esensi tema itu, sebenarnya mereka (mahasiswa) ingin tampil argumentatif dan integritas.

Lalu, memilih diksi ” Deliberatif”, diksi itu deksripsi tugas parlemen mahasiswa, seperti; SEMA. Istilah Deliberatif, seringkali dikaitkan dengan demokrasi, seperti; “demokrasi deliberatif”. Artinya, diskursus, open minded, sharing knowledge dan partisipatif diperlukan untuk menentukan arah kebijakan organisasi mahasiswa.

Generasi muda sejatinya generasi gemilang. Sebagai tunas bangsa, dipundak mereka disematkan banyak harapan negeri ini. Mereka adalah “iron stock”, tugas utama mereka “learning and learning”.

Learning (belajar) bagian terpenting up grade kualitas diri. Apalagi, pada era milineal dinamika sains dan knowledge lainnya berkembang cepat. Karenanya, JANGAN BERHENTI BELAJAR

Aktif di organisasi juga learning, bisa belajar admistratif, skills, leadership, problem solving, decision maker dan design kegiatan. Organisasi, secara aksiologis memberikan banyak pengetahuan.

Tetapi, JANGAN tinggalkan tugas primer, yakni; mengikuti semua tahapan akademik di kampus, supaya kelak menjadi SARJANA berkualitas.

Mahasiswa dikenal entitas akademis, mereka representasi idealisme, netralitas, objektivitas dan intelektualitas. Semua prilaku, sikap, cara berfikir mahasiswa mesti akademis dan ilmiah.

Dalam menyikapi fenomena dan isu yang berkembang, baik di medsos maupun media massa. Mahasiswa tidak boleh “gegabah, latah dan ikut – ikutan”. Perlu analisis mendalam dan telaah konprehensif sebelum bersikap. Itu substansi karakter mahasiswa.

Mahasiswa mesti skeptis dan kuriositas terhadap semua informasi yang muncul, dengan begitu mahasiswa lebih analis, ilmiah, dan independen. Setiap bertindak “harus mengerti apa persoalannya”.

For example, demonstrasi. Kaji dulu, pelajari dulu sebelum Demonstrasi. Sebab, demo adalah reaksi terakhir mahasiswa. Historical gerakan mahasiswa begitu, demo upaya aspirasi terakhir mahasiswa.

Meski begitu, mahasiswa harus mengerti karakter- nya sendiri. Mereka insan akademis, cara berfikirnya konseptual, visioner dan akademis. Mahasiswa bukan “pion”, tetapi “creator of change”. Mereka, insan smart, brilian, dan ilmiah.

Mereka tidak diperintah oleh siapapun, ia hanya diperintah oleh ilmu dan idealisme-nya.

Mereka bukan pejuang “pesan politik”, dan pejuang “political desire”. Mereka pejuang ilmu, kebenaran dan kebaikan. Mereka berjuang untuk Indonesia, Pancasila dan keutuhan bangsa.

Organisasi internal kampus, paska reformasi1998 adopsi semi sistem “trias politika”, montesquieu, pemikir politik Prancis. Konsepsi-nya “saparation of power”, yaitu; Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Saat ini, dikampus baru ada dua model organisasi, yaitu; Eksekutif dan Legislatif. Kedepan, saran saya agar mahasiswa bentuk lembaga Yudikatif supaya sistem “trias politika” bisa utuh dipelajari, tidak partial.

Dikampus IAIN Langsa ada fakultas Syariah (hukum). Mahasiswa bisa belajar teknik persidangan dan peradilan. Dari aspek utility, lembaga Yudikatif Mahasiswa perlu dibentuk oleh BEM dan SEMA institut.

In fact, ada banyak persoalan bisa diselesaikan lembaga Yudikatif mahasiswa, for example; sengketa Pemilihan Raya Mahasiswa, konflik regulasi antar organisasi, dan ketimpangan penyelenggaraan organisasi.

Setiap putusan lembaga Yudikatif mahasiswa punya sanksi, tentu bukan sanksi PIDANA. Sanksi itu sifatnya administratiif dan moral.

Keanggotaan lembaga Yudikatif mahasiswa adalah mahasiswa fakultas Syariah, tetapi setelah diseleksi oleh panitia penjaringan yang dibentuk oleh BEM dan SEMA institut.

Lembaga Yudikatif hanya ada di institut, tidak ada di fakultas. Akan tetapi menyelesaikan semua persoalan hukum organisasi mahasiswa, baik pada institut maupun fakultas.

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts