Perihal Zawiyah Cot Kala

Zawiyah Cot Kala heritage peradaban Islam di Nusantara, berdiri pada abad 9 M di Aramiah-Bayeun. Pendirinya adalah Teungku Muhammad Amin, pangeran dinasti Pereulak. Zawiyah Cot Kala setara dengan “Universitas Islam”, diperkirakan kampus ini runtuh pada abad 16 M ketika Pasai diserang Portugis.

Zawiyah Cot Kala banyak melahirkan pemimpin dan ulama besar, diantaranya; Syaykh Abdullah Kanan, Meurah Johan, Malik as Salih, Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Setelah abad 16 M, Zawiyah Cot Kala hilang dalam ingatan publik, dan dibincangkan kembali pada abad 20 M dalam Seminar Masuknya Islam di Nusantara, Rantau, Kuala Simpang, Aceh Timur tahun 1980 M. Untuk mengenang Zawiyah Cot Kala, pada tahun 1980 didirikan IAI Zawiyah Cot Kala Langsa. Belakangan, kampus ini dikenal dengan nama IAIN Langsa.

Zawiyah Cot Kala cikal bakal lahirnya dayah di Aceh, begitu juga sanad ilmunya. Istilah/kata dayah diambil dari kata zawiyah, dan kata zawiyah dilafalkan bervariasi, misalnya; dayah, deyah, deah dan joyah. Istilah yang paling populer adalah dayah.

Tidak diketahui pasti, kapan istilah zawiyah berubah menjadi dayah, apakah sejak zawiyah dikenal di Pereulak (Aceh), atau pada era berikutnya. Syaykh Abdul Rauf al-Fansuri dalam kitabnya Dukhkhan al-Lu’lu wa al-Jawhar masih menggunakan kata zawiyah, dan menyebut Zawiyah Manara.

Boleh jadi, istilah dayah mulai populer pada abad 19 M. Snouck Hurgronje ada menyebut kata deah atau deeah, tetapi tidak berarti kata dayah berasal dari lidahnya. Sebagai komparasi, dalam buku ini dipaparkan teorisasi perubahan zawiyah menjadi dayah dalam dialek Aceh dengan pendekatan fonologi.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Terbaru