Santri Milenial

KAMIS lalu, saya menjadi nara sumber di Dayah Madrasah Ulumul Qur’an (Muq) Langsa dalam acara “training job”.

Saya diminta buka acara sekaligus sampaikan materi, dengan tema “Urgensi Organisasi untuk Generasi Milenial”.

“Training job”, dikhususkan untuk pengurus Organisasi Santri Madrasah Ulumul Qur’an (Osmuq) setelah mereka dilantik mengantikan pengurus lama. Begitu “cycle” organisasi, yang lama digantikan dengan yang baru untuk periode tertentu.

Esensi “training job”, dimaksudkan agar santri mengerti sistem dan mekanisme organisasi. Mereka diperkenalkan cara mengelola organisasi.

Kegiatan itu bagus, dan santri bisa mengerti detail organisasi — cara kerja, planning dan realisasi kegiatan edukatif. Dan bimbingan ekstra pamong dan pimpinan diperlukan untuk memastikan tujuan berorganisasi tercapai.

Sebagai “santri Milenial”, mereka beda dengan santri dulu. Saat ini fasilitas belajar banyak dan modern. Apalagi, di era globalisasi dan revolusi industri 4.0.

Organisasi sedini mungkin mesti diperkenalkan kepada santri. Karena, mereka generasi bangsa, butuh banyak pengetahuan — belajar leadership, manajemen dan soft skill lainnya.

Hal yang membuat saya gembira ketika melihat mereka “serius” dan “fokus” belajar.

Mereka “kader tunas ulama”, dibentuk dari dayah modern. Mereka memiliki dua pengetahuan sekaligus, yaitu; ilmu agama islam atau dikenal dengan istilah “perennial knowledge”, dan ilmu umum atau “acquired knowledge”.

Bertemu “santri milenial”, bagi saya sangat bahagia, karena bertemu dengan para penuntut ilmu, yang energik dan visioner.

Belajar di usia muda akan lebih fokus, dibandingkan ketika usia lanjut, yang banyak dinamika dihadapi. Namun, belajar tidak boleh berhenti.

Dalam terminologi pendidikan Islam di Aceh, santri adalah murid/peserta didik di dayah. Dayah khas Aceh, sinonim dengan pesantren, yang diambil atau adaptasi fonem dari kata “zawiyah”.

Hal yang pantas dicontoh dari “santri melinial”, ketekunan dalam belajar, disiplin dan responsiblity, dibuktikan dari kesiapan (readiness) mereka untuk mendalami ilmu.

Khas “santri milenial”, yakni; kritis dan rasa ingin tahu tinggi. Sikap ini penting supaya lebih komprehensif dalam memahami ilmu pengetahuan.

Sikap itu diperlukan dalam belajar untuk menebalkan wawasan santri. Sikap kritis dan “curiosity” merupakam mekanisme dasar belajar, seperti membuat “making question”.

Mereka pintar membuat “making question”, substansi pertanyaan bagus, seperti cara mahasiswa bertanya padahal mereka masih “siswa”, tingkat Aliyah atau menengah atas.

Retorika bagus, kemampuan komunikasi luar biasa, bahkan ada yang bertanya menggunakan bahasa Inggris. Artinya, mereka “smart”, brilian dan tekun dalam belajar.

Ketika di Muq langsa, dan pada saat menyampaikan materi dihadapan santri, saya didampingi ustadz Muklasan, Mukhtaruddin, Yulia Rahmi, dan Khairul Amin.

Mereka semua pimpinan dibidangnya, yang setia dan senantiasa membimbing santri.

Saya doakan, semoga santri Muq Langsa terus sukses dan diberkati Allah Swt.*

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts