Abu Chik Diglee

image

Abdurrahman al Darany

Oleh : Abu Chik Diglee

Abdurrahman al Darany adalah seorang sufistik besar dari sebuah negeri berperadaban tua, yaitu Damaskus, memiliki nama lengkap Abu Sulaiman Abdurrahman bin Athiyah al Darany.

Syekh Abdurrahman al Darany, dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Daran, yang merupakan bahagian dari negeri Damaskus.Ia wafat pada tahun 215 Hijriah bertepatan dengan tahun 830 Miladiyah.

Salah seorang sahabat Syekh Abdurrahman al Darany, yaitu, Syekh Ahmad Abul Khawary berkata, “Pada suatu hari aku memasuki rumah Syekh Abdurrahman al Darany, aku dapati ia sedang menangis. Aku bertanya kepadanya mengapa engkau menangis? Ia menjawab, bagaimana aku tidak menangis, ketika malam gelap gulita dan mata mulai terlelap, sementara di sisi yang lain, aku mengetahui bahwa setiap kekasih Allah swt menyendiri, bersimpuh seraya bermunajat kepada Yang Maha Dikasihinya.

Di mana pada saat itu, para hamba pecinta Allah swt., menggerakkan langkah kaki batinya untuk tetap terus bertaqarrub kepada Rabbul’alamin, di tengah tengah hamba Allah swt yang lain, sedang terlelap dalam mimpi mimpi di dalam tidurnya. Para hamba pecinta Allah swt., di tengah sepinya malam, mengalirkan air mata pada pipi pipinya, linangan air mata itu menetes menyentuh lantai mihrabnya, sebagai ungkapan sebuah kerinduan, dan rasa khawatir terhadap nasibnya di hadapan Yang Maha Menciptakannya. “Syekh Abdurrahman al Darany mengatakan, bahwa segala sesuatu itu ada karatnya, bagaikan besi yang berkarat. Dan ketahuilah, bahwa karatnya cahaya batin itu, adalah perut yang terlalu kenyang.

Ia juga mengatakan, bahwa siapa-pun yang berbuat kebajikan sepanjang hari, niscaya Allah swt akan mencukupinya di malam hari, begitu juga sebaliknya.Dengan demikian, jadilah para hamba yang tidak letih dari aktifitas kebajikan, agar Allah swt terus mencukupi apa yang menjadi kebutuhan.

Syekh Abdurrahman al Darany, juga mengatakan, jika dunia Bersemayam kuat di dalam batin seorang hamba, maka akhirat-pun akan berlalu meninggalkannya. Hal terakhir yang ia sampaikan adalah, bahwa setiap sesuatu pasti ada ilmunya, dan ilmu kehinaan dihadapan makhluk, tetapi merupakan kemuliaan di hadapan Allah swt selaku al Khaliq, adalah meninggalkan tangisan. Jangan pernah menangis karena hinaan manusia, sepanjang itu adalah jalan menggapai kemuliaan di sisi Allah swt. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru