Abu Chik Diglee

image

Al ‘Aalim ‘Ala Al ‘Aabid

Oleh : Abu Chik Diglee

Al ‘Aalim artinya orang yang berilmu, merupakan bentuk al ismu al faa’il (subjek) dari kata ‘allama-ya’lumu/ya’limu-‘alman. Artinya, mengerti, mengetahui. Sedangkan al ‘aabid, artinya adalah hamba yang ahli ibadah.

Al ‘Aabid merupakan bentuk al ismu al faa’il (subjek) dari kata ‘abada-ya’budu-‘ibaadatan-wa’ubuudiyatan, artinya beribadah,menyembah, mengabdi. Dengan demikian, al ‘Aalim ‘ala al ‘aabid, memiliki pengertian, bahwa kedudukan orang yang berilmu itu, di atas kedudukan orang yang ahli ibadah.

Imam Muhammad Isa bin Samurah bin Musa bin Dhahaq al Tirmidzi, yang dikenal dengan sebutan imam al Tirmidzi, di dalam kitabnya Sunan al Tirmidzi, pada Baab ke 19, yaitu Baab Fi Fadhli al Fiqhi ‘ala al ‘Ibadah (keutamaan ahli fiqih atas ahli ibadah), menuliskan sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas, dimana Nabi saw bersabda:” Faqiihun asyaddu ‘ala al syaithaan min alfi ‘aabid.” Artinya,”Orang yang paham agama, lebih berat untuk dihadapi oleh syaithan, daripada seribu orang yang ahli ibadah.” Atas dasar itulah, Nabi Muhammad saw., bersabda, siapa-pun yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah swt akan mudahkan baginya, jalan menuju ke surga. Dan sungguh Malaikat, meletakkan sayap sayapnya (mendo’akan) atas orang orang yang mencari ilmu, karena ridha terhadap para pencari ilmu, dan sesungguhnya orang yang berilmu itu, sungguh dimintakan ampunan baginya oleh seluruh penghuni langit dan bumi, sampai sampai semua jenis ikan yang hidup dalam air (di laut, sungai, rawa, alur alur, parit parit dan lainnya)memohonkan ampunan kepada Allah swt untuk orang yang berilmu.

Dan perumpamaan orang yang berilmu atas para ahli ibadah, bagaikan bulan terhadap semua bintang bintang. Sesungguhnya ulama itu, adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham.

Para nabi hanya mewarisi ilmu, siapa yang mengambil ilmu dari nabi, maka dia telah mengambil bagian yang sempurna(Kitab Sunan al Tirmidzi, nomor hadits. 2.823).

Ada trilogi rancang bangun filosofis ilmu yang harus dipahami, yaitu akhlaq sebagai pondasi ilmu, kemudian ilmu sebagai bagai bangunnya, dan hikmah sebagai mahkota dari ilmu.

Setinggi apapun ilmu para hamba, jika dia tidak berakhlaq, maka ilmunya itu hanya sampah yang akan mendatangkan bau busuk semata. Ilmu tanpa mahkota al hikmah (kearifan), hanya mendatangkan keangkuhan yang memuakkan. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru