AL HAMBRA adalah sebuah istana yang sangat besar dan megah yang terletak di wilayah Granada.Granada merupakan pusat pertahanan terakhir ummat Islam di Andalusia, menggantikan Cordoba yang telah jatuh kekuasaannya ke pihak kristen. Bahkan Masjid Agung Cardoba telah pula dirubah menjadi Katedral Le Mezquita.Istana al Hambra dibangun oleh Dinasti Ahmar (bangsa Moor) yang berasal dari Afrika Utara. Dinasti Ahmar adalah penguasa Islam terakhir yang berkuasa di Granada. Istana Al Hambra adalah puncak kemajuan tertinggi arsitektur Islam di Andalusia.Istana ini dikelilingi oleh taman taman yang sangat indah dan mempesona. Istana Al Hambra, berdiri dengan kokoh selama berabad abad di atas Bukit La Sabica.
Al Hambra sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu Hamra’, merupakan bentuk jamak dari kata ahmar yang berarti “merah.” Istana Al Hambra adalah “Istana Merah,” karena bangunan istananya dihiasi oleh ubin dan bata pualam merah yang sangat langka.Semua hiasan dindingnya berwarna kemerah-merahan, dengan keramik yang bernuansa seni Islami, dan merupakan perpaduan dengan batu batu marmer dan pualam yang berwarna putih.
Istana Al Hambra dibangun dalam rentang waktu yang sangat panjang, dimulai tahun 1250 Miladiah oleh Abdurrtaman al Nasir berlanjut secara bertahap sampai 250 tahun kemudian, yaitu sampai tahun 1500 Miladiah.Istana Al Hambra, jauh lebih megah bila dibandingkan dengan istana Madinat al Zahra yang dibangun oleh Abdurrahman III, pada tahun 936 Miladiah, atas permintaan istrinya yang bernama Madinat al Zahra yang bernama latin Cardoba la Vieja yang kemudian bergelar Versailles Abad Pertengahan.
Istana Madinat al Zahra terdiri atas empat ratus kamar mewah, yang semua lantainya terbuat dari pualam khusus yang didatangkan dari Numidia dan Kartago. Istana AL Hambra juga, jauh lebih indah dari istana Ja’fariyah yang ada di Saragosa. Islam pernah mengalami masa masa keemasan yang sangat gemilang, dan jejak jejak kegemilangan itu masih terus membekas sampai era kekinian, namun akhirnya semuanya hilang,bagaikan buih yang tersapu gelombang.Semuanya terjadi setelah penyakit kronis “al Wahnu”, yaitu hubbud dunya wa karaahiyatul maut(mencintai dunia dan takut mati)” menerpa dan mencabik cabik ummat Islam. Akhirnya mereka menjadi begitu rapuh, dan hanya mampu meninggalkan sebongkah “sisa debu peradaban,” dari sebuah kejayaan masa lampau.Allah swt telah pula mengingatkan kita di dalam surat Ali Imran(3), ayat 140, yang artinya, “Dan hari hari(kejayaan dan kehancuran) itu, telah kami pergilirkan di antara manusia.”Tidak ada kejayaan dan kehancuran yang abadi, karena abadi itu sendiripun, kelak akan sirna. Wallahu’alam.




