Abu Chik Diglee

image

Al Shaahib

Oleh : Abu Chik Diglee

AL SHAAHIB artinya adalah sahabat atau teman, akar katanya adalah shahiba (fi’lu al madhi), yashhabu(fi’lu al mudhari’), shubhatan (isim mashdar).Bentuk jama’nya ada tiga macam, yaitu shahbun, shihaabun, dan ashhaabun, yang artinya banyak sahabat atau banyak teman.

Al Qur’an bercerita tentang hal hal yang berkaitan dengan sahabat dan persahabatan, salah satunya ada di dalam surat al Taubah, ayat 40, dimana Allah swt berfirman, yang artinya:”..sedang dia (Nabi saw) salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya (sayidina Abu Bakar) , janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah swt beserta kita.”

Abu al Qasim Junayd al Baghdady, menjelaskan tentang ayat tersebut di atas, ketika Allah swt menetapkan bahwa sayidina Abu Bakar al Shiddiq sebagai sahabat Nabi saw, Allah swt menjelaskan bahwa Nabi saw., menampakkan sifat kepedulian yang besar kepadanya.

Al Junayd al Baghdady juga mengatakan, bahwa setiap orang yang merdeka, adalah senantiasa peduli atas setiap sahabatnya. Ini artinya, jika ada orang merdeka yang tidak peduli kepada sahabatnya, sebenarnya orang itu hanyalah seorang “budak” yang sedang memakai jubah orang yang merdeka. Karena hanya seorang “budak” saja, yang memiliki sikap tidak peduli kepada sahabatnya, hal itu disebabkan semua sikap “budak”, harus seizin dan sepengetahuan tuannya.

Seorang “budak”, sepanjang ia masih sebagai “budak”, tidak akan pernah bersikap peduli kepada sahabatnya, kecuali atas restu dari tuannya. Imam al Quysyary mengatakan, ada tiga jenis sahabat dan persahabatan, yaitu;

Pertama, bersahabat dengan yang lebih tinggi posisinya, hakekatnya persahabatan ini, hanya sekedar bentuk penghormatan dan rasa bhakti semata. Kedua, bersahabat dengan yang lebih rendah posisinya, hakekatnya persahabatan ini menuntut adanya sikap peduli dan mengasihi.

Ketiga, bersahabat dengan yang memiliki kemampuan dan pandangan ruhani, hakekatnya persahabatan ini, menuntut sikap memperioritaskan sepenuhnya kepada sahabatnya.

Bentuk persahabatan jenis yang ketiga inilah, yang terjadi pada diri Nabi saw beserta para sahabatnya. Alkisah, ada seorang hamba yang merupakan sahabat dari syekh Ibrahim bin Adham, ketika mereka akan berpisah ke tempat yang jauh, sahabat syekh Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, jika engkau melihat diriku ada cela dan cacat sepanjang berinteraksi dan bersahabat denganmu, maka ingatkanlah diriku, syekh Ibrahim bin Adham menjawab, “sebagai sahabat, aku tidak pernah melihat cela dan cacatmu, karena sebagai sahabat aku selalu melihatmu dengan mata kecintaan seorang sahabat kepada sahabatnya, sehingga yang terlihat olehku tentang dirimu, adalah kebaikan kebaikan semata.

Jika kamu ingin bertanya tentang cela dan cacatmu tolong tanyakan saja kepada orang lain selain diriku.”Dalam hal ini, Syekh Ibrahim bin Adham mengajarkan kepada kita, bahwa sahabat dan persahabatan yang hakiki, bukan sahabat dan persahabatan yang pseudo(palsu), pasti tidak akan pernah melihat, apalagi mencari cari cela dan cacat sahabatnya. Semoga semua sahabat dan persahabatan kita, termasuk jenis yang genuine (sejati) dan pure (murni).Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru