Abu Chik Diglee

image

Amanu Wa Akhbatu

Oleh : Abu Chik Diglee

AMANU artinya telah menjadi beriman dan Akhbatu adalah merendahkan diri.Menjadi hamba yang beriman, beramal shalih, dan merendahkan diri kepada Allah swt adalah tiga pilar yang dapat mengantarkan para hamba menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya (Surat Hud, ayat 23).Para hamba yang beriman, tentunya berbeda dengan hamba yang tidak beriman, sebagaimana berbedanya antara orang yang buta dengan orang yang dapat melihat.Namun apakah setiap hamba dapat mengambil pelajaran dari kedua perbedaan itu ? Inilah yang disindir oleh Allah swt di dalam surat Hud, ayat 24, dengan kalimat “Afala tadzakkaruun” (Apakah kamu sekalian tidak dapat mengambil pelajaran?).

Ada kekhawatiran dari nabi Nuh,as. terhadap ummatnya yang tidak beriman kepadaNya.Karena hal hal yang bersifat penggerusan terhadap iman, penyimpangan tauhid dan pendangkalan aqidah dapat berakibat datangnya adzab dari Allah swt.(Surat Hud, ayat 26). Dan yang lebih menakutkan, jika adzab yang Allah swt turunkan kepada ummat nabi Nuh,as., diawali dengan adanya isyarat terlebih dahulu, yaitu kedatangan adzab banjir besar ditandai oleh “wafaaraa al tanuur (memancarnya air dari dapur),sebagaimana yang termaktub di dalam surat Hud, ayat 40.

Sedangkan adzab yang Allah swt datangkan kepada kita, tidak diberi tanda tanda apapun, karena selalu tiba tiba dan tidak terduga.Nabi Nuh, as. berdakwah kepada ummatnya sejak beliau berusia 450 tahun, untuk menyeru agar beriman kepada Allah swt.Dan dakwah nabi Nuh, as., berlangsung selama 950 tahun dari keseluruhan usia beliau yang panjang, yaitu 1780 tahun.Dan beliau baru wafat 60 tahun setelah adzab Allah swt dalam bentuk banjir besar berlalu.Berapa banyak ummat nabi Nuh,as yang beriman kepada Allah swt setelah ia berdakwah selama 950 tahun ? Al Qur’an menjelaskan hal tersebut di dalam surat Hud ayat 40, “Wama amana ma’ahu illa qaliil.”Artinya, “tidak beriman bersamanya, kecuali hanya sedikit.”

Sahabat Nabi saw., yang bernama Abdullah ibn Abbas menjelaskan, bahwa ummat Nabi Nuh as yang beriman itu, jumlahnya hanya antara 10 sampai 80 orang saja.Bahkan menurut al Qur’an surat al Tahrim, ayat 10., istri Nabi Nuh,as (Wahilah atau Wafilah) termasuk yang durhaka kepada Allah swt .Begitu juga dengan satu orang anaknya yang bernama Kan’an juga durhaka kepada Allah swt.

Nabi Nuh,as adalah nabi ketiga setelah nabi Adam,as dan nabi Idris,as. IiNabi Nuh,as adalah keturunan kesembilan dari nabi Adam,as. Dan bahagian dari ulul azmi, yaitu nabi yang banyak menanggung beban derita dan berat cobaannya.

Hanya tiga putra nabi Nuh,as yang beriman kepada Allah swt dan beriman kepada dirinya, yaitu Sam, Ham, dan Yafet.Iman mereka telah membawa kepada jalan keselamatan.Selamat dari adzab Allah swt dalam bentuk banjir besar yang teramat dahsyat, yang di dalam surat Hud, ayat 42 diilustrasikan, “Wahiya tajriibihim fi maujin kaljibaali.” Artinya, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”Oleh karenanya, pandai pandailah mencermati perubahan dan menganalisis isyarat Allah swt, serta cerdaslah mensikapi setiap realitas zaman, jaga dan rawat baik baik iman yang telah dimiliki.Karena dengan iman, meskipun hanya sebesar zarrah (atom), peluang untuk menjadi penghuni surga masih ada.

Roda waktu dan peradaban para hamba di masa mendatang, akan cendrung bergulir menuju kepada sinkritisme keyakinan dan agama, dengan semboyan “religion no religiousitas yes.” Dan ummat Islam harus mewaspadai hal itu, serta harus menjaga dan merawat iman serta Islam dengan baik dan bersungguh sungguh, sehingga iman dan Islam bisa diwariskan secara benar kepada generasi dan anak cucu.Dan jangan lupa, rendahkan diri kepada Allah swt Rabbul’alamin, segera buang segala bentuk kesombongan dan kedengkian.

Bersujudlah menyembah kepadaNya dengan tulus. Pahamilah, bahwa sujudnya para hamba yang beriman menyentuh bumi, namun gemanya menghiasi langit semesta, getaran sukma sujudnya menembus penjuru ufuk cakrawala. Mari membangun kehidupan tanpa kesombongan, nir keangkuhan dan kedengkian. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru