Syekh Yahya bin Mu’adz mendeskripsikan auliyaa’, sebagai para hamba yang mengenakan pakaian kesukacitaan jiwa, setelah mereka mengalami banyak cobaan dan penderitaan batin di dalam pengembaraan spiritualitas ruhaninya.
Para waliyullah itu adalah hamba hamba yang mendekap indahnya limpahan kebahagiaan spiritualitas, setelah menempuh jalan panjang mujahadah, ketika mereka ingin menggapai derajat waliyullah tersebut.
Syekh Abu Yazid al Bisthamy menyebutkan, bahwa para auliyaa’ adalah hamba hamba yang ditabiri ruang khusus dihariban-Nya, oleh kesukacitaan jiwa(uns), tidak seorang hambapun yang dapat merasakannya, kecuali ia adalah waliyullah.
Syekh Said bin Salam al Maghriby mengatakan, bahwa waliyullah yang masyhur, tidak akan terperdaya oleh tipu daya dan perangkap kemasyhurannya. Oleh karenanya, jika ada waliyullah terlihat menikmati kemasyhuran dirinya, maka ketahuilah bahwa ia sebenarnya bukanlah seorang waliyullah.
Syekh Nashr Abadzy mengatakan, auliyaa’ itu tidak pernah menuntut hal hal yang bukan jalan menuju kepada kewaliyannya, karena para auliyaa’ selalu menyembunyikan kewaliannya dan selalu merasa hina di hadapan Allah Swt Sang Maha Pencipta dirinya.
Syekh Abu Ali al Juzajany berkata, waliyullah adalah hamba yang mengalami fana keadaannya namun tetap dalam musyahadah akan Allah Swt, dengan keadaan seperti itu Allah Swt memberinya anugrah terhadap urusan urusannya, sehingga menjadi mudah. Dengan musyahadah yang dialami auliyaa’, maka cahaya kewalian akan terus melimpah(lawami’), sehingga waliyullah tidak memahami berbagai kemudahan telah Allah Swt datangkan kepadanya karena bagi waliyullah di dalam batinya tertanam dalam bahwa Allah Swt adalah al Shamad atau tempat meminta dan menggantungkan segala harapan.
Syekh Yahya Bin Mu’adz mengatakan, auliyaa’ adalah wewangian yang Allah Swt anugrahkan untuk bumi, yang dinikmati harumnya oleh para shiddiqin, sehingga wangi harumnya itu terhirup masuk menyentuh relung batin para hamba Allah yang lain untuk mengajarkan ketaatan kepada Allah Swt. Dengan demikian diharapkan, banyak para hamba yang terbelenggu pada ikatan kerinduan pada Rabb yang Maha Memelihara dirinya, untuk selanjutnya senantiasa patuh menjalankan ibadah agar bertambah tingkatan derajat dan kedudukannya di sisi Ke-Maha Esaan Allah Swt. Wallahu’alam




