Balaa’ adalah bentuk isim mashdar (kata kerja yang dibendakan atau akar kata).Kata balaa’ berasal dari fi’lul madhi (kata kerja telah lalu) balaa, fi’lul mudhaari’ (kata kerja sedang atau akan) nya adalah yabluu, sedangkan bentuk isim mashdarnya ada dua yaitu, balaa’ dan balwan, artinya adalah cobaan. Di dalam al Qur’an, surat al Baqarah ayat 155 Allah swt telah berfirman: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa dan buah buahan.
Dan berikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.” Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia itu tidak akan pernah sepi dari cobaan. Karena cobaan adalah bahagian dari cara Allah swt untuk meningkatkan kualitas iman, dan mengangkat para hamba kepada posisi yang lebih mulia serta bermartabat.
Anas bin Malik menceritakan bahwa ketika Fatimah r.a memberikan sepotong roti kepada Rasulullah saw, beliau bertanya, apa ini wahai Fatimah? Fatimah r.a menjawab, sepotong roti yang saya masak sendiri, hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu. Kemudian Rasulullah saw menjawab, ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk kemulut ayahmu sejak tiga hari ini.(hadits ini diriwayatkan oleh al Harits bin Usamah di dalam kitab Musnadnya).
Balaa’ (cobaan) lapar adalah bahagian dari jalan hidup para hamba sufistik dan merupakan salah satu tiang pilar mujahadah. Bagi para hamba sufistik, balaa’ (cobaan), adalah bahagian dari tantangan yang kehadirannya disambut bahkan disongsong dengan penuh suka cita dalam ketaatan. Ilustrasi tentang kesabaran para sufistik dalam menjalani balaa’ (cobaan), mewarisi kesabaran nabi Ayub, as.
Keimanan yang sempurna, dan tauhid yang hanif, mampu mengantarkan para hamba menjalani hidup dengan pola balaa'(cobaan) dan rahmat bernilai dan terasakan sama. Wallahu’alam




