Syekh Sahl bin Abdullah menerangkan, bahwa ketika Allah swt menciptakan dunia, Allah swt menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan, minum, dan seksualitas. serta menempatkan kebijaksanaan di dalam balaa'(cobaan) rasa lapar dan pengedalian seksualitas.
Syekh Yahya bin Mu’adz menyebutkan, seandainya orang dapat membeli rasa lapar di pasar, maka para hamba pencari kebahagiaan akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di pasar itu.Begitulah makna penting dari balaa'(cobaan) rasa lapar, bagi para hamba pemburu kesenangan hidup alam akhirat.
Syekh Yahya bin Mu’adz juga menjelaskan, bahwa balaa'(cobaan) rasa lapar bagi para saalik(penempuh jalan ruhani) adalah riyadhah(olah batin), balaa’ adalah cobaan bagi para hamba yang bertaubat, dan siasat bagi zahid, serta tanda kemuliaan bagi para ahli ma’rifat.
Syekh Abu Sulaiman al Darany menegaskan, bahwa miftahu al dunya(kunci dunia) ini adalah mengisi perut, sedangkan kunci akhirat adalah balaa'(cobaan) rasa lapar.
Imam Malik bin Dinar berkata, Siapapun yang telah mengalahkan syahwat dunia(merasakan balaa’ (cobaan) perut lapar dan mengendalikan keburukan syahwat), maka itulah tindakan yang dapat memisahkan syaithan dari dirinya.
Para sufistik memandang balaa'(cobaan) atas diri mereka adalah hal yang sangat positif dan dinantikan, karena mereka berkeyakinan bahwa balaa'(cobaan) adalah solusi atau jalan keluar yang Allah swt hadirkan untuk mengantarkan mereka sampai kepada kedudukan yang terpuji di sisi Allah swt.
Para sufistik akan menjawab setelah merasakan pahitnya balaa'(cobaan), dengan kalimat, “kami menginginkan tidak lagi berkeinginan”, karena nikmat besar yang kami rasakan dari pahitnya balaa'(cobaan). Wallahu’alam




