BRAVERY OF BLOOD artinya adalah darah keberanian, gelar ini pantas disematkan kepada Muhammad bin Tjughji, pendiri Dinasti Ikhsidiyah. Ikhsidiyah berasal dari kata ikhsyid, diambil dari bahasa Persia, yang artinya adalah “adikuasa.”Gelar Bravery of Blood (darah keberanian) Muhammad bin Tjughji, layak disematkan kepadanya, karena ia adalah salah seorang panglima perang Bani Abbasiyah yang berhasil menghancurkan Dinasti Ibnu Thulun dan sekaligus mengeliminir bibit kekuatan Dinasti Fathimiyah di Mesir, kemudian menguasai Mesir dan melepaskan diri dari kekuasaan Bani Abbasiyah, selanjutnya membangun Dinasti Ikhsidiyah.Kesetian Muhammad bin Thughji yang sangat besar kepada Dinasti Abbasiyah memudar, setelah Dinasti Abbasiyah mengkhianatinya, dengan mengirim pasukan ke Syiria dibawah komando Muhammad bin Raiq untuk merampas Mesir darinya.
Dinasti Ikhsidiyah berhasil menguasai dua kota suci, yaitu Makkah dan Madinah, hal tersebut terjadi pada tahun 331 Hijriah, setelah setahun Bravery of Blood (darah keberanian) Muhammad bin Thughji, menguasai Syiria.Bravery of Blood (darah keberanian), adalah pemimpin Muslim yang taat, ia sering menangis jika mendengar ayat suci al Qur’an dibacakan, dan ia pula yang meramaikan istananya dengan Khatmil Qur’an.Perekonomian Mesir sangat maju pada masa Dinasti Ikhdisiyah, dengan pendapatan hasil pajak jasa perdagangan 3.270.000 dinar pertahun.Pada masa kejayaannya,
Dinasti Ikhsidiyah menjadi penguasa adidaya yang ditakuti oleh Imperium Romawi.Kekuasaan Bravery of Blood(darah keberanian)Muhammad bin Thughji, membentang mulai dari Mesir sebagai ibukota, Syiria, Makkah, Madinah, Halb, Thurtus, sampai Pegunungan Thawus di Utara Syiria.Dalam bidang kebudayaan, Dinasti Ikhdisiyah membangun Istana al Mukhtar di pulau Raudhah, keunikan Istana al Mukhtar adalah lokasinya, yang dikelilingi oleh taman al Kafuriy berisi berbagai jenis pepohonan yang langka dan indah.
Sejarawan besar Muslim al Hasan bin Zaulaq adalah salah satu ilmuwan yang dilahirkan dari era kejayaan Bravery of Blood (darah keberanian) Muhammad bin Thughji.Usia Dinasti Ikhsidiyah terbilang tidak lama, hanya 35 tahun saja, yaitu dari tahun 323 Hijriah (934.Miladiah) sampai tahun 358 Hijriah(969.Miladiah).
Dinasti Ikhsidiyah yang didirikan oleh Bravery of Blood (darah keberanian), pernah dipimpin oleh empat penguasa yang memerintah dengan gaya yang berbeda, yaitu Muhammad bin Thughji (324-334.H), Abu al Qasim Anujur Ikhsyid (334-349.H),Abu al Hasan Ali bin Ikhsyid(349-355), dan Ahmad bin Ali bin Ikhsyid(355-357.H).
Faktor utama kehancuran dinasti yang didirikan oleh Bravery of Blood (darah keberanian) adalah konflik internal yang memperebutkan “roti” kekuasaan dan kehancurannya menjadi sempurna pada saat bibit bibit Dinasti Fathimiyah telah tumbuh dengan maksimal, yang akhirnya berhasil merebut Mesir, melalui pemimpinya yang bernama al Muiz Lidinillah.
Tidak ada yang perenialis (mengabadi), semuanya akan mengalir mengikuti arus zamannya, kembang indah yang mempesona pada suatu zaman, akan terkulai layu kehilangan pesonanya di zaman yang lain.Tidak perlu ada keangkuhan dalam rentang waktu kekuasaan, karena semua kejayaan besarpun, akan sampai pada keadaan breaking point(titik kritis)nya, dan pada akhirnya, akan musnah.Yang tinggal hanya “gading” jika dia “gajah” dan yang dikenang adalah “belang” jika ia “harimau.” semoga kita bisa mewujud, seperti do’a Nabi Ibrahim as berikut ini, “Waj’al li lisaana shidqin fil akhiriin.” Artinya, “Dan jadikanlah hamba buah tutur yang baik, bagi generasi yang datang terkemudian.” Wallahu’alam




