Abu Chik Diglee

image

Dzun Nuun Al Mishry

Oleh : Abu Chik Diglee

Dzun Nuun al Mishry, memiliki nama lengkap Abul Faydh Dzun Nuun Tsauban bin Ibrahim al Mishry. Ayahnya berasal dari bangsa Nauby, suatu bangsa yang mendiami wilayah Naubah, yang terletak di wilayah Timur Laut Afrika, yang dibatasi oleh wilayah Mesir, Laut Merah, dan Khartoum. Penduduk negeri Naubah menggunakan bahasa Arab dan bahasa Naubia.

Syekh Dzun Nuun al Mishry, wafat pada tahun 240 Hijriah(859.Miladiah). Menurut imam al Qusyari, syekh Dzun Nuun al Mishry, berkulit kemerahan, berbadan kurus dan berjenggot hitam. Ia bertempat tinggal di Mesir. Pada suatu hari ia dipanggil oleh khalifah al Mutawakkil, karena pengaduan beberapa orang, pada saat syekh Dzun Nuun al Mishry masuk menjumpai khalifah dan kemudian menasihatinya, maka khalifah menangis.

Sejak itu khalifah sangat menghormati syekh Dzun Nuun al Mishry, dan selalu menangis jika mengenang nasihat nasihat syekh Dzun Nuun al Mishry yang pernah disampaikan kepadanya. Syekh Dzun Nuun al Mishry berkata, “Di antara tanda tanda seorang hamba itu mencintai Allah swt., adalah orang tersebut mengikuti jalan hidup yang ditempuh oleh kekasih Allah swt., yaitu Nabi Muhammad saw di dalam akhlaq, ucapan, dan perilakunya.” Ia juga mengatakan, “bahwa para hamba yang hina, adalah para hamba yang tidak mengenal dan tidak menempuh jalan yang telah Allah swt wahyukan.”

Syekh al Maghriby datang bertanya kepada syekh Dzun Nuun, tentang mengapa ia bertobat dan kemudian menempuh jalan kehidupan sufistik, syekh Dzun Nuun menjawab, “Pada suatu hari aku pergi meninggalkan Mesir untuk menuju ke sebuah perkampungan, di tengah jalan pada sebuah wilayah gurun yang berpohon, dalam keadaan yang sangat lapar, aku istirahat dan tertidur, tiba tiba aku dikejutkan oleh bunyi suara, yang ternyata seekor burung besar jatuh dari arah langit ke bumi, lalu mataku mencermati tanah tempat burung besar itu jatuh, kulihat tanahnya retak merekah, dan keluar dari dalamnya dua buah mangkok, satu terbuat dari emas dan yang satunya terbuat dari perak. Satu mangkok itu berisi air dan yang satunya berisi biji bijian, lalu akupun makan dan minum dari isi kedua mangkok itu, yang ternyata biji bijian itu terasa begitu lezat dan mengenyangkan perut, serta airnya begitu segar menghilangkan rasa dahaga, sejak itu, aku berkata kata pada diriku sendiri, rasanya sudah cukup bagi diriku, aku bertaubat dan kemudian aku arahkan jalan hidupku menuju “Gerbang Pintu Rumah” Allah swt (masjid), hingga Dia menerima taubat diriku yang hina ini.

Oleh karenanya, aku tidak pernah alpa untuk senantiasa melangkahkan kaki dari satu masjid ke masjid yang lain, tidak pernah berhenti aku berkeliling dari satu perbuatan baik kepada perbuatan baik yang lainnya, semoga engkau juga demikian wahai syekh Maghriby. “Untuk yang terakhir kali di penghujung kehidupannya, diambang maut menjemputnya, Dzun Nuun al Mishry, berkata, “Lambung yang terlalu banyak diisi, tidak akan didiami oleh al hikmah, padahal Allah swt berfirman, Siapapun yang diberikan al hikmah, maka sungguh ia telah diberikan kebaikan yang banyak (al Baqarah, ayat 269). “Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru