Di dalam Surat Ibrahim, Surat ke 14, ayat 32, Allah swt berfirman: “Dia Allah yang mengadakan kapal untuk keperluan kamu, agar berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia mengadakan sungai sungai untuk keperluan kamu.”
Menurur Peter Boxhall dalam bukunya Arabian Seafarers in the Indian Ocean(2007) menyebutkan, Bahwa masyarakat Arab Selatan penghuni lembah hijaz, tidak akrab dengan laut, Oleh karenanya perdagangan mereka selalu melalui jalur darat.
Meskipun para penghuni lembah hijaz tidak akrab dengan laut, tetapi di era khalifah sayidina Utsman bin Affan, ‘imaaratun bahriyyah (armada laut) ummat Islam dalam bentuk kekuatan angkatan laut mulai dibentuk atas usulan Mu’awiyyah bin Abi Sofyan.
‘Imaaratun Bahriyyah (Armada Laut) ummat Islam itu, dirintis untuk pertama kali di Suriah, karena Mu’awiyyah sudah berkedudukan sebagai gubernur Suriah, sejak era sayidina Umar Bin Khathab. Pusat dari ‘imaaratun bahriyyah (armada laut) ummat Islam itu, disebar pada pelbagai kota pelabuhan besar di wilayah laut Mediterania Timur, seperti pelabuhan Tripoli, Tyre, Akka, dan Jaffa.
Kekuatan ‘imaaratun bahriyyah (armada laut) ummat Islam itu, telah diisi dan dilengkapi oleh ahli astronomi, navigasi, teknik perkapalan dan persenjataan.
Pada tahun 648 Miladiyah, Mu’awiyyah merencanakan perluasan dakwah ke cyiprus yang jaraknya hanya 250 kilometer dari pantai Tripoli, tempat berpusatnya salah satu kekuatan besar ‘imaaratun bahriyyah(armada laut) Islam.
Menurut muarikh (sejarawan) Islam besar abad ke 9 Hijriah, yaitu Syekh Ahmad bin Yahya al Baladzuri,
pada tahun 469 Miladiyah(28 Hijriah), Mu’awiyyah didampingi oleh Laksamana pertama dunia Islam, Yaitu Ubadah bin Shamit beserta istrinya Katwa binti Qaradza (ummu Haram), yang wafat di kapal, sebelum pertempuran laut terjadi dikarenakan sakit.
Beserta Laksamana lain yang menyertai yaitu Abdullah bin Sa’ad dan Abdullah bin Qais. Mereka berhasil mendarat di pantai Salamis, Cyprus Timur, dan selanjutnya merebut Cyprus dari kekuasaan Byzantium atau Romawi Timur.
Perang Laut pertama ummat Islam itu, disebut dengan perang Sawari (perang tiang kapal) atau terkadang disebut juga dengan perang Dzatu Sawari (perang di wilayah Sawari).Wallahu’alam.




