image

Imla’ Al Hadits

Oleh : Abu Chik Diglee

IMLA’ AL HADITS artinya mendektekan hadits. Imla’ al Hadits adalah salah satu tradisi keilmuan Islam di dalam mentransfer ilmu hadits dari Nabi saw kepada para sahabatnya.Salah satu aktifitas halaqah (lingkaran) keilmuan Islam yang dibangun oleh Nabi saw adalah Imla’ al Hadits atau mendektekan hadits.

Setelah Nabi saw wafat tradisi itu diterusksn oleh para sahabat yang telah mendapatkan hadits yang banyak dan sempurna dari Nabi saw untuk diimla’kan kepada para sahabat dan tabi’in yang masih kurang ilmunya tentang hadits hadits Nabi saw. Imla’ al hadits pasca sahabat dan tabi’in serta atba’ tabi’in, dilakukan dengan sangat ketat, dan hanya boleh dilakukan oleh mereka yang mencapai tingkat tinggi dalam bidang keilmuan dan pengetahuan tentang hadits.

Di dalam kitab Sunan al Darimi, juz.1, halaman 125, disebutkan bahwa Nabi saw mengimla’kan hadits haditsnya kepada sahabat Abdullah ibn Amru ibn al ‘Ash dan Anas ibn Malik yang berada dihadapan beliau.Majelis imla’ hadits berkembang dengan pesat di era para sahabat.

Seorang sahabat terkemuka, Watsilah ibn al ‘Asqa’ sangat rajin mengimla’kan hadits hadits yang ada pada beliau kepada para tabi’in yang duduk berjejer dihadapanya.Sejak berkembangnya majelis imla’ hadits, banyak para sahabat dan tabi’in yang tidak keluar rumah, kecuali selalu membawa alat tulis dan lembaran untuk menulis.

Seiring ramainya orang orang yang mengikuti majelis imla’ hadits, banyak sahabat dan tabi’in yang mengangkat mustamli’, yaitu penyambung suara bagi orang yang mengimla’kan hadits.Di antara contoh yang mengangkat mustamli’ di dalam majelis imla’ haditsnya adalah Syu’bah ibn al Hajjaj.Karena terlalu ramai yang hadir di majelis imla’ haditsnya, Ashim ibn Ali al Wasithiy duduk di tanah yang lapang, dengan tujuh orang mustamli’ dan beliau mengualangi empat belas kali imla’ untuk setiap hadits.

Muhammad ibn Hajjaj al Khathib mengatakan, bahwa majelis imla’ hadits Abu Ishak ibrahim ibn Ali al Hujaimiy dihadiri oleh tiga puluh ribu orang secara bergelombang dan bergantian untuk bisa mendapatkan imla’ hadits di majelisnya.Hal yang serupa juga terjadi pada majelis imla’ hadits Abu Muslim al Kijiy.

Di antara etika mustamli’ yang disebutkan oleh al Khathib al Baghdadiy adalah, mustamli’ harus orang yang cerdas, bersuara keras, berbahasa jelas, dan mengikuti suara muhaddits dengan posisi mengahadap kepada mustami’.

Secara lebih lengkap tentang mustamli’ dapat di lihat ke dalam kitab al Jami’ Li Akhlaq al Rawi Wa Adab al Sami’ karya imam Ahmad ibn Ali yang terkenal dengan sebutan al Khathib al Baghdadiy.Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts