Abu Chik Diglee

image

Karamah

Oleh : Abu Chik Diglee

Karamah muncul sebagai tanda dari kebenaran ruhaniah yang ada di dalam batin para hamba.Karamah adalah salah satu bentuk keistimewaan Auliyaa’, yang tidak terdapat kecuali hanya pada para wali saja.

Imam al Qusayry mengatakan, bahwa karamah tersebut mengharuskan adanya hal hal yang tidak lazim menurut ukuran yang biasa. Karamah berbeda dengan mu’jizat, karena mu’jizat hanya untuk para Nabi, sedangkan karamah untuk para wali.

Jika mu’jizat para Nabi untuk disebarluaskan, tidak demikian halnya dengan karamah para wali, yang harus disembunyikan dan ditutupi oleh para wali itu sendiri. Terkadang karamah didapatkan melalui ikhtiar dan do’a, dan terkadang karamah hadir di luar ikhtiar dan do’a.Tidak semua wali muncul karamahnya di dunia ini, ada wali yang tidak muncul karamahnya, tetapi tidak menghilangkan kedudukannya sebagai wali, karena yang mengerti seorang hamba adalah wali, bukan para hamba yang awam, melainkan harus hamba yang wali juga.

Para wali yang benar kewaliannya, tidak bertumpu pada karamah yang muncul pada dirinya. Para wali sangat memahami, bahwa bagi para wali, tidak ada keharusan berupaya untuk mendapatkan karamah.Terkadang bisa muncul nuansa sejenis karamah seperti firasat dan bertambah awasnya penglihatan mata batin, yang kesemuanya itu merupakan anugerah dari Allah swt yang menopang kukuhnya aqidah. Diantara karamah yang terabadikan di dalam al Qur’an adalah kisah karamah hamba Allah yang hidup di era Nabi Sulaiman a.s., yaitu Ashif, ketika mengatakan: “Aku akan memindahkan singgasana(Ratu Balqis) itu kepadamu sebelum kelopak matamu berkedip. “(Surat al Naml ayat 40).

Sayidina Umar bin Khatab sangat populer dengan karamahnya, dimana ketika beliau sedang khutbah Jum’at tiba tiba memerintahkan Sariyah untuk mendaki bukit dan tetap berada di bukit, sehingga dapat lolos dari kepungan musuh. Padahal jarak tempuh antara sayidina Umar dengan Sariyah yang sedang terdesak musuh sangatlah jauh, tetapi sariyah bisa mendengar seruan sayidina Umar dengan sangat jelas.

Di dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 37, diceritakan tentang karamah Maryam yang selalu mendapatkan makanan segar yang tiba tiba telah ada di dalam mihrabnya. Karamah Maryam yang lain, adalah gugurnya buah kurma yang masih hijau, berubah menjadi buah kurma masak, tatkala Maryam menggoyang pangkal pohon kurma di saat ia membutuhkannya (Surat Maryam ayat 25).

Banyak lagi contoh contoh karamah yang lain seperti Ashabul Kahfi yang tertidur selama 309 tahun, karamah Juraij, salah seorang sahabat yang difitnah menzinahi pelacur yang kemudian melahirkan anak yang bisa berbicara, dimana si bayi berbicara bahwa yang menzinahi ibunya bukan Juraij, melainkan seorang penggembala.

Syekh Sahl bin Abdullah mengatakan, bahwa karamah yang paling mulia bagi para wali adalah kelanggengan taufik di dalam batin untuk selalu taat kepada Allah Swt., terjaga dari maksiat dan dari perkara perkara yang menyimpang menurut syari’at.

Karamah menurut syekh Sahl bin Abdullah dapat diperoleh, di antaranya dengan sikap zuhud dalam kehidupan duniawiah selama empat puluh hari, dengan niat yang benar disertai keikhlasan yang sungguh sungguh karena Allah swt.
Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru