Abu Chik Diglee

image

Khiva

Oleh : Abu Chik Diglee

KHIVA Khurasan adalah kota di Asia Tengah. Sekarang menjadi wilayah Uzbekistan.Di dalam bahasa Uzbek Khiva biasa disebut dengan Xiva dan di dalam bahasa Persia disebut Xiveh.

Catatan sejarah tentang Asia Tengah, kerap menyebutnya dengan Kheeva Khorasam.Khiva adalah kota yang  kaya akan situs sejarah ummat Islam di Asia Tengah. Peninggalan kejayaan Islam di kota Khiva, ada istana, masjid, madrasah, museum dan lainnya.Kota Khiva dahulunya rute yang  disinggahi dalam jalur perdagangan jalan sutra menuju ke Persia.Khiva merupakan jalur sutra  pengubung antara Asia dengan Eropa Timur.

khiva adalah kota yang dikelilingi oleh padang pasir Kyzilkum dan Karakum.Khiva sangat populer sebagai kota  dengan  benteng tua di padang pasir gersang, yang di dalamnya ada kota kecil bernama Itchan Kala yang dilindungi oleh dinding batu bata yang terbuat dari lumpur gurun setinggi sepuluh meter.Sub kota Itchan Kala memuat deretan karya arsitektur Islam pada setiap sudutnya.

Di kota kuno ini ada menara Khwaja yang merupakan bagian gedung tertinggi diseluruh Khiva.Di kota kuno ini ada juga menara Kalta Minor berbentuk mini, yang terbuat dari kaca dan batu ubin yang bermotif warna warni, serasi dan  mempesona bagi para pengunjungnya.Muarikh mencatat, Islam  masuk ke Khiva pada abad ke 8 M. Dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke 14 M.Di gerbang Barat Khiva ada monumen Abdullah Muhammad bin Musa al Khawarizem  ilmuwan besar Islam, penemu teori matematika al Jabar dengan kitabnya yang legendaris Hisab al Jabar Wa al Muqalaba.

Khiva pernah dikuasai imperium Persia, yaitu oleh Nadhir Shah (1740-1741.M) yang mengatur strategi peperangannya di Lembah Amu Dariya yang terletak di sebelah Selatan laut Aral.Kota Khiva dihuni oleh 90 persen Muslim Sunni. Khiva adalah salah satu dari tiga kerajaan besar Islam di wilayah Asia Tengah, dua kerajaan lainnya adalah kerajaan Samarkand tempat Imam Bukhari dilahirkan dan kerajaan Kokand.Jika melakukan rikhlah kauniah ke Samarkand bisa menziarahi Makam imam Bukhari dan juga makam Ibnu Abbas sepupu Nabi saw di komplek Sakhi Zinda yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari kota Samarkand.Dengan bermigrasinya Abdullah bin Abbas ke Samarkand, maka lahirlah pusat pusat ilmu keIslaman di wilayah Asia Tengah, muncul banyak  ulama  besar ahli hadits dari wilayah ini, diantaranya imam al Bukhari, imam Muslim, imam Abu Daud, imam Tirmidzi.

Penulis terkesan terhadap kota Khiva, dikarenakan oleh tiga hal.Pertama kota Khiva adalah kota dimana ummat Islam pernah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke 14 M. Kedua, kota Khiva adalah kota yang tidak hanya unik bangunan arsitekturnya, tetapi juga kota perlintasan perdagangan jalur sutra yang sangat strategis dan merupakan kota warisan dunia.

Ketiga, penulis sendiri memiliki historis geneologis dengan kota Khiva, karena konon leluhur penulis adalah seorang da’i dan fuqaha’  yang berasal dari kota Khiva yang melabuhkan jangkar kapalnya di perairan Aceh Darussalam kurang lebih tujuh abad yang silam, tepatnya di pertengahan abad ke 15.

Leluhur penulis itu bernama Syekh Abdullah Kubra al Khurasani seorang da’i dan fuqaha’ kota Khiva kelahiran Khiva- Khurasan, Februari 1523 M., yang mendarat di pantai perairan Aceh Darussalam pada tahun 1555 M., bersama seorang putra tunggalnya berusia tiga tahun bernama Syekh Jalaluddin  Abdul Kadir al Khurasani yang lahir di Khiva Xorazm, tahun 1552 M. Kemudian keduanya bermukim di Babah Jurong-Kuta Baro-Aceh Besar.

Syekh Abdullah Kubra al Khurasani wafat di Babah Jurong Kuta Baro, pada bulan Mei tahun 1608 M., dalam usia 85 tahun. Putra tunggalnya Syekh Jalaluddin Abdul Kadir al Khurasani wafat di tempat yang sama pada tahun 1850 M., dalam usia 98 tahun.Kota Khiva  dikelilingi tembok, dengan sebelas pintu gerbang utama, bahagian luar disebut Dichan Kala sedangkan bahagian dalam, disebut Itchan Kala.Kata Khiva diambil dari nama sebuah sumur yang pernah digali oleh Sem bin Nuh as yaitu sumur Kheyvak yang artinya rasa yang menakjubkan. Khiva berarti kota yang memiliki keindahan yang menakjubkan di tengah hamparan padang pasir. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru