LA CONQUISTA DE GRANADA adalah istilah mu’arikh (sejarawan) Spanyol, untuk menyebutkan penaklukan kembali kristen katholik, atas kekuasaan Islam di Granada.
Salah satu hal yang menyedihkan dari La concuista de Granada adalah peristiwa inkuisisi, atau di dalam bahasa Inggrisnya disebut inquisition (pemeriksaan resmi yang sangat ketat), dalam konteks La concuista de Granada (penaklukan Granada), adalah pemeriksaan yang sangat ketat, menyangkut agama, keyakinan dan adat yang tidak sesuai dengan agama, keyakinan, dan adat katolik penguasa Spanyol, harus “dibersihkan” dari Spanyol.
Joseph F. O’Callaghan, di dalam bukunya, Reconquest and Crusade in Medieval Spain, yang diterbitkan pada tahun 2012, menyebutkan tentang reconquesta sebagai sebuah penaklukan kembali kristen katolik atas muslim Spanyol.
Reconquesta juga bercerita tentang suatu periode di dalam sejarah ummat Islam yang berkuasa di wilayah semenanjung Iberia sepanjang 770 tahun lamanya, yang kemudian berakhir dengan hilangnya kekuasaan Islam di tanah spain, setelah jatuhnya Granada sebagai kekuasaan Islam terakhir di Peninsula.
Pada tanggal 2 Januari 1492, sultan Muhammad XII, Abu Abdullah menyerah, maka tamatlah riwayat Granada sebagai negeri Islam terakhir di Eropa Barat. Para Mu’arikh menuliskan tentang babak awal reconquista dengan pertempuran covadonga pada tahun 718 M, dimana sebagian kecil, pasukan katolik yang dipimpin seorang bangsawan bernama Pelayo, berhasil mengalahkan tentara Bani Umayyah di pegunungan Iberia Utara, dan selanjutnya mendirikan pemerintahan katolik di Asturias.
Di dalam tahap berikutnya, reconquista semakin intens sejak raja, Castile, Leon Alfonso VI menaklukkan Toledo pada tahun 1085 M. Tanggal 31 Maret 1492 M raja dan ratu Spanyol, Ferdinand II dan Isabela I, mengeluarkan dekrit al Hambra yang isinya melarang praktek keagamaan dan adat ummat Islam dan ummat Yahudi Sefradim di seluruh wilayah Hispanis (Spanyol).
Pada bulan Juli 1492 M, dua ratus ribu Yahudi Sefardim diusir paksa oleh Ferdinand II dari Spanyol. Satu tahun kemudian,pada tahun 1493 M, Uskup Agung Hernando de Talavera, mengeluarkan maklumat yang memerintahkan seluruh ummat Islam, untuk memeluk katolik, bagi yang tidak mau, dikenakan tindakan tindakan nirtoleran yang kejam dan pengusiran dari Spanyol.
Penderitaan ummat Islam dan ummat Yahudi Sefradim semakin berat di Spanyol setelah raja Charles V raja dari Aragon berkuasa pada tahun 1526. Akhirnya, sebagian yang masih bertahan hidup dari ummat Islam dan Yahudi Sefradim yang terusir dari Andalusia Spanyol itu, bermigrasi ke Konstantinopel yang pada saat itu sudah dikuasai Islam, mereka dilindungi oleh sultan Beyezid II, di tempat yang baru itu, sisa ummat Islam Andalusia yang terusir dan 30 ribu Yahudi Sefradim, merasakan hidup di “Andalusia baru”, sebagaimana mereka pernah hidup nyaman di “Andalusia lama” yang pernah dipimpin oleh kekuasaan Islam selama 770 tahun lamanya.
Islam selalu mengayomi dan mengajarkan kebaikan, karena Islam itu sendiri adalah kebaikan, keteduhan, dan pengayoman yang rahmatan lil ‘alamiin.Wallahu’alam.




