Mahbub quluub al khalaa’iq, artinya adalah “dicintai hati banyak orang.” Kalimat itu tertulis apik, dengan pahatan yang halus terampil, pada sebuah batu nisan dari abad masa yang silam, berangka tahun 622 Hijriah atau tahun 1226 Miladiah.
Batu nisan yang indah itu mewakili keadaan Aceh, pertengahan pertama abad ke 7 Hijriah atau abad ke 13 Miladiah. Nama yang terukir pada batu nisan makam itu adalah Ibnu Mahmud, yang wafat pada hari Ahad, akhir bulan Dzulhijjah tahun 622 Hijriah.
Kalimat yang tertulis dimakam itu, mengingatkan kita kepada sebuah pantun, “pulau pandan jauh di tengah, disebalik pulau Angsa Dua, hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua.” Dan apa yang tertulis pada makam itu, seperti do’a yang pernah dimohonkan oleh Nabi Ibrahim as. Kepada Allah swt di dalam surat al Syu’araa’ ayat 84, “Waj’al Lii lisaana shidqin fii al akhiriin.” Artinya, “Ya Allah… dan jadikanlah hamba buah tutur yang baik, bagi generasi yang datang terkemudian.”Makam itu terletak di gampong Leubok Tuwe, Meurah Mulia, Aceh Utara, provinsi Aceh.
Pada epitaf ke tiga dari batu nisan itu, tertulis bahwa yang dimakamkan di makam itu adalah “al sa’id” penguasa yang memerintah kesultanan Islam Samudra Pasai, sebelum al Malik al Shalih dan dinastinya memerintah.
Al Malik al Shalih adalah pendiri dinasti al Shalihiyyah, yang memiliki nama lengkap Sultan al Malik al Shalih, ia wafat pada tahun 696 Hijriah atau tahun 1297 Miladiah, makamnya terletak di gampong Beuringen, Samudra, Aceh Utara, provinsi Aceh.
Dinasti al Malik al Shalih ini, sangat berjasa dalam mengembangkan ajaran ajaran Islam, tidak hanya untuk Aceh, tetapi juga seluruh tanah melayu, nusantara dan mancanegara.Dinasti kesultanan Islam, al Malik al Shalih ini berkuasa lebih dari dua abad.Dan dinasti ini berakhir pada dekade kedua abad ke 16 Miladiah,, seiring dengan wafatnya Sultan Zainal Abidin bin sultan Ahmad bin sultan Muhammad bin sultan al Malik al Shalih, pada tahun 923 Hijriah atau pada tahun 1518 Miladiah.
Makam sultan Zainal Abidin terletak di gampong Kuta Krueng, Samudra, Aceh Utara, provinsi Aceh. Pada inskripsi makamnya, tertulis sebait do’a “Khaladallahu Mulkahu. Aamiin.” Artinya, “Semoga Allah swt melanggengkan kerajaannya, Perkenankanlah ya Allah.” Do’a seperti itu adalah pertanda sultan Zainal Abidin, telah memerintah dengan sangat baik, dan rakyatnya hidup di dalam kemakmuran serta kemuliaan.
Dengan mengenang jasa jasa baik para pendahulu di dalam menyebarkan Islam, mudah mudahan Allah swt., menganugrahkan kemuliaan kepada kita, sebagaimana Allah swt telah memuliakan para Ndatu dan pendahulu kita. Aamiin. Wallahu’alam.




