image

Marwah’s Glory

Oleh : Abu Chik Diglee

MARWAH’S GLORY artinya adalah kemuliaan marwah atau kemuliaan muru’ah. Marwah’s Glory, secara sederhana dapat dipahami sebagai kemuliaan harga diri.Yang dimaksud dengan sebutan pemilik Marwah’s Glory di dalam tulisan ini, adalah imam Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm al Anshari al Khazraji al Najjari al Madani al Qadhi.Ia wafat pada tahun 117 Hijriah.

Menurut imam Malik ibn Anas, ia tidak melihat seorang ulama seperti Abu Bakar ibn Hazm, yaitu seorang yang sangat mulia marwahnya dan sempurna sifatnya.Ia ulama hadits dan fikih, sekaligus Gubernur Madinah dan Qadhi (hakim)di Madinah.

Imam Malik ibn Anas juga mengatakan, “tidak ada di kalangan kami di Madinah yang menguasai ilmu qadha’ (peradilan) seperti yang dimiliki oleh Ibn Hazm.”Berdasarkan penjelasan dan kesaksian imam Malik ibn Anas, maka sangat layak jika imam Ibn Hazm disebut sebagai seorang ulama, dengan sebutan pemilik Marwah’s Glory.Karena ia bukan hanya ulama ahli hadits dan fikih, tetapi juga seorang Gubernur dan sekaligus Qadhi (hakim) di Madinah.

Muhammad ‘Ajjaj al Khathib di dalam kitabnya al Sunnah Qabla al Tadwin, mengutip pernyataan Ibnu Ma’in, Kharrasy dan Ibnu Hiban, bahwa Ibn Hazm termasuk ke dalam kelompok sanad yang tsiqat (terpercaya).

Menurut imam Ibnu Hajar al Asqalani di dalam kitabnya Tahdzib al Tahdzib, Atas perintah dari Khalifah Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, Ibn Hazm menulis dan menyusun hadits hadits Nabi saw yang ada padanya, dan juga menulis dan menyusun hadits hadits yang ada pada al Qasim ibn Muhammad (w.107.H) dan ‘Umrah binti Abdurrahman(w.98.H). ‘Umrah binti Abdurrahman adalah makcik kandung dari Ibnu Hazm.

‘Umrah binti Abdurrahman pernah tinggal lama bersama ‘Aisyah Ummahaat al Mu’minin. Dan ‘Umrah binti Abdurrahman adalah sanad hadits yang paling terpercaya dari kalangan tabi’in, dalam hal hadits hadits yang bersumber dari ‘Aisyah. Ibn Hazm dengan sebutan sebagai pemilik Marwah’s Glory (kemuliaan marwah), memiliki banyak murid, seperti imam al Auza’i, imam Malik ibn Anas, imam Abu Laits, imam Ibn Ishaq, dan lainnya.Di dalam kitab al Jami’ li akhlaq al rawi wa adab al sami’, halaman 44., disebutkan tentang hadits riwayat imam Ahmad dari Anas bin Malik, dimana Nabi saw bersabda,”Qayyidu al ‘ilma bil kitaab.” Artinya, “Kendalikanlah ilmu kamu itu dengan tulisan.”Setelah Ibn Hazm, maka penyusunan kitab kitab hadits secara sistematis mulai dirintis oleh Imam Malik ibn Anas (93-179.H) dan Muhammad Ibn Ishaq (151.H) di Madinah dan Abdul Malik ibn Abdul Aziz ibn Jarih al Bashry (150.H) dan Muhammad ibn Abdurrahman ibn Abi Dzi’ib (80-158.H) di Makkah.

Muhammad ibn Abdurrahman ibn Abi Dzi’ib juga menulis kitab al Muwatha’ yang lebih tebal dari kitab al Muwatha’ yang pernah ditulis oleh imam Malik. Di Bashrah mulai muncul penulisan dan penyusunan kitab hadits secara sistematis, oleh al Rabi’ ibn Shabih (w.160.H), Sa’id ibn Abi ‘Arubah (w.156.H), dan Hammad ibn Salamah (w.167.H).Di Kufah ada penulis dan penyusun kitab hadits secara sistematik pertama yaitu, Sufyan al Tsauriy(97-161.H).

Di Yaman dipelopori oleh Khalid ibn Jamil al ‘Abd dan Ma’mar ibn Rasyid(95-153.H).Di Syam yang menjadi pelopor penyusunan kitab hadits secara sistematis adalah imam Abdurrahman ibn Amr al Auza’iy (88-157.H).Di Mesir ada Abdullah ibn Wahb (125-197.H).Di Khurasan ada Hasyim bin Busyair (104-183.H).Begitu selanjutnya, kitab kitab hadits disusun secara lebih sempurna dan diiringi dengan kualifikasi sanad, matan, dan rawi, mutawatir, shahih, dan dha’if, hingga seperti yang dilihat oleh ummat Islam di era sekarang ini.

Kitab kitab hadits mengalami sangat banyak kemajuan, ada yang disyarah (diberi penjelasan), ada ikhtishar (diringkas), ada    tahdzib (penyaringan) dan ada pula pentakhrijan hadits (menemukan hadits dari sumber aslinya/kitab induk hadits).

Ilmu Hadits yang begitu luas bagaikan hamparan sawah yang membentang, menjadi tantangan tersendiri bagi generasi milenial muslim, untuk bercocok tanam ilmu di dalamnya, tentunya dengan satu tekad, menghidupkan sunnah Nabi saw di atas pondasi Ilmu Hadits yang maksimal dan benar. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts