NATURE IN SOLIDO artinya adalah “saling terjalinnya berbagai unsur alami”, terminologi ini lahir dari konsepsi filsafat organisme yang dicetuskan oleh Alfred North Whitehead. Alfred North Whitehead dilahirkan di Ramsgete, Kent, Inggris pada tanggal 15 Februari tahun 1861 dan meninggal di Cambridge, Massachusettes, Amerika Serikat, pada tanggal 30 Desember tahun 1947.
Ia meninggal dunia dalam usia 86 tahun.Inti dari pandangan filsafat Whitehead adalah reaksi dan sekaligus alternatif terhadap pandangan kosmologis yang disebut dengan nomenklatur materialisme ilmiah (scientific materialism).
Di dalam pandangan materialisme ilmiah, dunia dengan segala isinya, pada dasarnya terdiri atas anasir material yang hukum hukumnya bisa dimengerti dan dijelaskan secara tuntas oleh ilmu pengetahuan, khususnya fisika dan kimia, tanpa sedikitpun mempercayai hal hal yang bersifat ghaib, termasuk tidak meyakini adanya Allah swt.
Materialisme ilmiah, biasa juga disebut dengan materialisme mekanistis. Yaitu jalinan anasir anasir material, yang masing masing unsurnya berdiri sendiri.Materialisme ilmiah memandang dunia ini tidak lain adalah sebuah mesin besar. Begitu mekanisme kerjanya diketahui, maka seluruh proses dapat bisa diperkirakan secara tepat dan akurat.
Dalam pandangan materialisme ilmiah, dunia di dalam dirinya sendiri bersifat impersonal, tidak bermakna, tidak bernilai, dan tidak bertujuan.Dengan cara berpikir seperti itu, materialisme ilmiah hanya mengakui dua hal saja, yaitu, pertama,causa materialis (sebab yang menjelaskan dari bahan apa sesuatu terjadi atau dibuat) dan kedua, causa efficient (sebab yang menjelaskan siapa yang mengerjakan atau bertanggung jawab atas sesuatu).
Sedangkan tiga causa yang lain di dalam materialisme ilmiah diabaikan, yaitu, causa prima (pencipta atau penggerak utama atau pertama), causa finalis (sebab yang menjelaskan maksud atau tujuan sesuatu) dan causa formalis (sebab yang menjelaskan wujud atau bentuk sesuatu).
Pandangan materialisme ilmiah menjadi seperti itu, dikarenakan adanya pengaruh kosmologi Descartes, yang menganggap dunia ini keseluruhannya sebagai materi atau benda yang terbentang (res extensa).
Whitehead hadir dengan filsafat organismenya untuk menentang konsepsi berfikir materialisme ilmiah, yang menurutnya telah melakukan latius hos (menarik kesimpulan yang labih luas dari yang secara shahih bisa dijamin oleh premis premisnya).
Menurut Whitehead, materialisme ilmiah juga telah melakukan apa yang disebut “the fallacy of misplaced concreteness” (kekeliruan dalam hal menganggap konkret apa yang sesungguhnya abstrak).Bagi Whitehead, dunia dan alam semesta itu hidup dan kehadirannya dapat dirasakan dalam kesunyian kontemplasi.
Hidupnya dunia dan alam semesta seperti yang dikatakan oleh Whitehead, juga diungkapkan oleh Allah swt di dalam al Qur’an, kitab suci ummat Islam, surat al Hajj(22) ayat 18, yang menyebutkan: “Alam tara annallaha yasjudu lahu man fi al samaawaati waman fi al ardhi wa syamsu wa al qamaru wa al nujuum wa al jibaal wa al syajaru wa al dawaabbu…. “Artinya, “Tidakkah kamu tahu, bahwa sujud kepada Allah swt siapa yang di langit dan siapa yang di bumi, dan sujud pula kepadaNya matahari,bulan,bintang gemintang, gunung gunung, pepohonan dan hewan hewan melata….” Dunia dan alam raya bersifat organik, terdiri dari satuan satuan yang saling terkait, masing masing diresapi oleh kehadiran satuan yang lain dalam dirinya.Yang kesemua itu di dalam konsepsi iman Islam berpulang kepada causa prima (penggerak pertama dan utama), yaitu Allah swt Rabbul’alamiin.
Dengan meminjam pendekatan filsafat organisme Whitehead, kita dapat memahami bahwa ada ketidakselarasan antara aesthetic intuition(intuisi keindahan)pada manusia dengan pandangan yang diajarkan oleh materialisme ilmiah atau materialisme mekanistis.
Karena sangat tidak logis jika dunia dan alam semesta tanpa ada causa prima (pencipta pertama), dan tanpa causa finalis (tanpa ada maksud dan tujuan) dari penciptaannya.
Ibarat pepatah, “Kalau tak ada berada, masakan tempuah bersarang rendah.” Wallahu’alam




