RA UBABDARR artinya, “penakluk gelombang.” Penyandang gelar ini adalah sultan Zainal ‘Abidin atau Malik al Zhahir, begitulah yang tertulis di dalam inskripsi makamnya.
Pada era ini, kesultanan Islam Samudra Pasai mencapai puncak kegemilangannya. Sultan Zainal ‘Abidin yang jasadnya dimakamkan di Kuta Krueng, Samudra, Aceh Utara, provinsi Aceh, adalah sang pengembang wilayah, ia telah memperluas kekuasaan Islam Samudra Pasai, yang sampai akhirnya menguasai Semenanjung Melayu dan juga berhasil membuka “Mulaqat,” yaitu tempat perjumpaan kapal kapal layar dari Timur dan dari Barat, tempat itulah, yang dikemudian hari, di dalam lisan orang Melayu, terbiasa disebut Melaka atau Malaka, yaitu suatu wilayah kekuasaan, dimana sultan Zainal ‘Abidin atau Malik al Zhahir, menempatkan putranya yang bernama Manshur untuk berkuasa dan memerintah.
Dengan demikian, kerajaan Islam Samudra Pasai, benar benar menjadi “tuan” atas Selat Melaka yang cukup ramai di era tersebut. Dan pada era itu pula, uang dirham bertuliskan Malik al Zhahir mulai dicetak, dimana hal tersebut kemudian diteruskan oleh para sultan generasi berikutnya, dari keturunan sultan Zainal ‘Abidin. Sultan Zainal ‘Abidin sendiri wafat di hari Jum’at, pada waktu Zuhur, tanggal 21 bulan Syawwal, tahun 841 Hijriah.
Kaligrafi yang bertuliskan surat al Mu’minun, ayat ke 12 sampai dengan ayat ke 16 menghiasi dinding monumen makamnya yang terbuat dari jenis batu pualam putih yang mirip dengan batu marmer.
Surat al Mu’minun, ayat 12-16 itu, bercerita tentang penciptaan manusia, kemudian ia berproses kepada kematiannya, dan akhirnya semua manusia akan kembali dibangkitkan pada hari kiamat untuk satu tujuan, yaitu bertanggung jawab terhadap apa saja yang telah mereka perbuat dahulu, pada waktu mereka hidup di alam dunia.
Seakan akan goresan huruf huruf al Qur’an yang tertera di batu pualam putih sultan Zainal ‘Abidin itu, ingin meninggalkan pesan moral kepada setiap para hamba yang menziyarahinya, “betapapun luas, besar dan kuatnya kekuasaan para hamba, kelak disuatu saat, pasti akan berakhir. “Karena Allah swt telah berfirman di dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 140, “Wa tilka al ayyaamu nudaawiluha baina al naas.” Artinya, “Dan hari hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” Wallahu’alam.




