image

Shaum Ramadhan

Oleh : Abu Chik Diglee

SHAUM adalah salah satu bentuk mashdar dari fi’lul madhi shaama.Bentuk masdar lainnya adalah shiyaaman.Shaum arti etimologinya adalah washthaama atau amsaka (menahan atau mengekang diri dari sesuatu, berhenti, diam atau berada pada suatu tempat).Misalnya kata, shaama asrih (angin berhenti berhembus), shaamat al syamsv(matahari di tengah tengah langit), shaama al fars (kuda diam enggan berjalan). Secara terminologi syari’at, shaum dimaknai, “imsaak makhshuush wa hua al imsaak ‘anil akli wa al syurbi wal jimaa’ wa ghairiha ‘ala wajhi al syarii’ati.” Artinya, “Menahan secara khusus, yaitu menahan diri dari makanan, minuman, “berhubungan” suami istri, dan lain lain, sesuai yang disyari’atkan.”

Ada juga yang mendefinisikan shaum dengan,”Imsaak makhshushush fi zamani makhshush ‘an syai’in makhshush bi syara’itha makhshuushat.” Artinya, “menahan diri secara khusus, pada waktu yang khusus, dari sesuatu yang khusus, dan dengan syara syarat yang khusus.”berdasarkan ta’rif di atas, dapat disimpulkan, bahwa orang yang shaum atau berpuasa menurut syari’at Islam adalah menahan diri disertai niat yang khusus (beribadah kepada Allah swt dan mengharap ridhaNya), pada waktu yang khusus (dari waktu shubuh hingga maghrib), dari sesuatu yang khusus(makan, minum, dan jima’), dengan syarat syarat yang khusus (sehat dan tidak ada udzur syar’i lainnya).

Shaum Ramadhan adalah berpuasa di dalam bulan Ramadhan, bagi ummat Islam shaum Ramadhan hukumnya adalah wajib. diantara hukum wajibnya puasa di dalam bulan Ramadhan, dijelaskan di dalam surat al Baqarah, ayat 183 dan juga dijelaskan oleh Rasulullah saw di dalam hadits riwayat imam al Bukhari dari Thalhah ibn Ubaidillah, yang artinya, “Seseorang telah bertanya kepada Rasulullah saw., kabarkanlah kepadaku apa yang diwajibkan Allah swt atas diriku dari berpuasa? Rasulullah saw., menjawab “puasa pada bulan Ramadhan.”Lalu laki laki itu bertanya kembali, apakah ada kewajiban puasa lainnya? Beliau menjawab, tidak.Kecuali kamu mau berpuasa sunnat.”Di dalam surat al Baqarah ayat 185, Allah swt berfirman yang artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang padanya diturunkan al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan keterangan dan pemisah antara yang benar dengan yang bathil. Maka barangsiapa yang menyaksikan bulan sabit itu, wajib atasnya berpuasa.”

Hari ini kita sudah berada pada penghujung akhir bulan Sya’ban, banyak hamba yang baru tiba ke kampung halaman, pergi menziarahi makam orang orang yang mereka cintai, karena menziarahi kubur, kata Nabi saw adalah bahagian dari dzikrul maut dan salah satu cara mengenang dan mendo’akan karib kerabat.

Suasana uroe mak meugang begitu terasa menyemarakkan hari terakhir bulan Sya’ban.Lalu lalang pasar menunjukkan banyak orang membeli daging, terlihat wajah wajah sumringah, semangat saling berbagi untuk dapat bahagia bersama antara yang berpunya dan kaum dhu’afa. Setelah zawal, sebentar kemudian, petang hari akan menjelang, nanti pada saat matahari ghurub atau tenggelam di ufuk Barat, kita sudah berada di dalam kandungan bulan Ramadhan dan malamnya Qiyam al Ramadhan atau Shalat Tarawih sebagai sebuah ibadah sunnat sudah harus diteggakkan.Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan.

Semoga kerinduan akan hadirnya Ramadhan 1442 Hijriah dapat tergapai dengan sempurna.Allahumma balighna Ramadhan.Ya Allah sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts