Abu Chik Diglee

image

Sufi

Oleh : Abu Chik Diglee

Sufi adalah istilah yang ma’lum (terpahami), dalam bingkai berpikir yang menggambarkan tentang shafwu (kebeningan) jalan hidup imani, yang ditempuh para hamba tertentu. Jika ia sendirian disebut Sufi, dan pada saat berkelompok menjadi Sufiyah. Pada saat para hamba berproses menjadi Sufi, disebut Mutashawwif, dan kumpulan para hamba yang berproses menjadi Sufi, dinamakan Mutashawwifah.

Menurut imam al Qusyairy al Naisabury, tidak ada bukti etimologis ataupun analogis padanan kata lain dalam bahasa Arab, yang bisa diturunkan dari sebutan Sufi. Pemaknaan yang paling logis adalah bahwa Sufi lebih mirip dengan laqab (gelar). Ada yang mengatakan, kata Sufi diambil dari kata shuuf (bulu), dengan maksud, tashawwuf diartikan “memakai kain bulu,” sebagaimana kata “taqammus” diartikan dengan “memakai baju gamis.” Ada yang mengaitkan kata Sufi, dengan kata Shuffah (serambi atau teras) masjid Nabawi. Ada yang mengaitkannya dengan kata Shafwu (bening atau murni). Dan ada juga yang mengaitkannya dengan kata Shaff (barisan), seakan akan batin para sufistik ada di barisan paling depan dalam muhadharah terhadap Allah Swt. Yang pasti, tidak ditemukan analogi atau penurunan akar kata yang tepat dan akurat untuk kata Sufi itu.

Syekh Muhammad bin Ali al Qashab mengatakan, Sufi adalah cerminan akhlaq yang mulia, dari orang yang mulia, dan di tengah tengah kaum serta masyarakat yang mulia. Syekh Samnun mengatakan, bahwa Sufi itu berarti para hamba yang menanamkan nilai nilai di dalam dirinya, bahwa ia tidak memiliki apa apa dan tidak pula dimiliki oleh siapa siapa, ia hanyalah milik yang Maha Pencipta.

Syekh Ma’ruf al Karkhy menjelaskan, bahwa Sufi dan Tashawwuf artinya memihak pada hakikat hakikat, dan memutuskan harapan harapan dari semua yang ada pada makhluk.

Al Junayd al Baghdady ditanya tentang Sufi dan Tashawwuf, ia menjawab, Sufi dan Tashawwuf adalah dimana para hamba hanya terikat kepada Allah Swt, tanpa ada keterikatan dengan yang lainnya. Selanjutnya al Junayd mengatakan, bawa Sufi itu, seperti bumi yang dipijak oleh siapa dan apapun dan juga seperti awan yang menaungi segala sesuatu yang ada di bawahnya, jika engkau melihat sufistik menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya telah rusak.

Syekh Abu Ya’kub al Mazabily mengatakan, Sufi adalah keadaan, dimana semua atribut kebanggaan manusia terhapus dari dirinya.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al Daraquthni, dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abu Juhaifah ia berkata, pada suatu hari Rasulullah Saw keluar menemui kami dengan raut wajah yang berubah, menggambarkan tentang kekhawatiran, lalu Rasulullah Saw bersabda : “Kebeningan dunia telah berlalu, yang tertinggal hanya keruhnya, kematian adalah penghargaan bagi setiap Muslim.”

Berdasarkan hadits di atas, kita diberikan pemahaman, bahwa air sungai kehidupan tempat dimana kita berenang di dalamnya sudah keruh, tidak lagi ada kebeningan, tetapi kita masih memiliki fitrah (kesucian dan kebeningan batin), yang jika kita mampu menjaganya dengan kekuatan iman dan Islam kita, insya Allah kita tidak akan tercemari oleh keruhnya air sungai kehidupan dunia itu. Sama seperti ikan yang hidup, tidak bisa terasinkan oleh asinnya air laut, atau seperti mutiara yang tidak berubah kilaunya meskipun terbenam lama di dalam lumpur yang kotor. Ikan yang hidup, yang tidak tercemari oleh asinnya air laut, atau mutiara yang tetap berkilau di dalam lumpur yang kotor, itulah Sufi. Semoga terpahami. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru