SYAMSU AL QULUUB artinya adalah matahari dari pelbagai hati. Setiap hamba Allah pasti memiliki hati, dan suasana hati para hamba Allah itu tentunya tidak ada yang sama.Ada yang risau, resah dan gelisah, ada yang murung dirundung nestapa, ada yang terluka tergores kata, ada yang menyesak memberontak terhadap realitas kehidupannya, dan adapula hati yang tenang bak air bening mengalir dengan segala apa adanya.Para hamba yang ‘arif (sufistik), akan selalu berada di dalam ketenangan dan ketentraman batinnya, karena ia terus berhajat kepada Allah swt Rabb al ‘Alamiin yang telah menciptakan dan memeliharanya.Bagi para hamba sufistik, tidak ada yang dapat memberikan rasa puas kedalam relung batinnya, kecuali pengabdian kepadaNya.
Sesungguhnya matahari siang akan terbenam di ufuk barat menjelang malam, namun tidak demikian halnya dengan matahari dari pelbagai hati.Ia akan tetap terus memancarkan sinarnya ke dalam batin setiap para penghambaNya.Gelap boleh menyelimuti malam, tapi tak mampu meredupkan lawami’ (pancaran cahaya ) ilahi yang melimpahi para hambaNya yang sujud bersimpuh kepadaNya di tengah kelamnya malam.
Syekh Ahmad Ibnu ‘Atha’illah menerangkan, “Jika Allah telah menjemukanmu dari makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu perasaan ingin selalu mendekat dan senang kepadaNya.”Selanjutnya syekh Ahmad Ibnu ‘Atha’illah mengatakan, berdasarkan suatu riwayat yang ia terima, pada suatu hari syekh Abu Yazid al Bisthamy,,atas anugrah kasih sayang dan ridha Allah swt kepadanya, dibukakanlah hijab alam malakut kepadanya.Setelah itu ditanyakan kepadanya, adakah sesuatu yang menyenangkan engkau, melebihi realitas alam malakut yang engkau telah saksikan ? maka ia menjawab tidak ada.
Lalu dikatakanlah kepada syekh Abu Yazid, bahwa engkau adalah hamba Allah yang sesungguhnya telah jujur bercerita tentang hakikat alam malakut.Banyak hal hal luar biasa yang terhijab dari penglihatan para hamba.Itu semua dikarenakan mereka masih berhajat kepada makhluk, dan mengabaikan al Khalik yang telah menciptakan makhluk.
Pada saat para hamba telah tidak lagi berhajat kepada makhluk, maka pada saat itulah syamsu al quluub, akan memancarkan cahaya yang menerangi kegelapan hidup, dan terjadilah tajalli, terlihat banyak hal yang selama ini terhijab oleh gelapnnya batin. Para ‘arifin (sufistik), mengatakan, ” hamba yang tahu tidak mengeluarkan kata, hamba yang tidak paham mengeluarkan banyak cerita.Yang tidak tahu, berkata kata.Yang mengerti diam seribu bahasa.Wallahu’alam




