Syaqiq al Balkhy adalah salah seorang sufistik termasyhur, yang kemasyhurannya melampaui era zamannya. Ia dilahirkan di Balkh-Afghanistan, dan wafat pada tahun 139 Hijriah (810.M.) di Khation-Tajikistan. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al Balkhy.
Syaqiq al Balkhy merupakan murid dari Syekh Ibrahim bin Adham dan ia memiliki murid di antaranya adalah Syekh Hatim al Asham. Syekh Syaqiq al Balkhy, menempuh jalan hidup sebagai sufistik, dimana sebelumnya ia adalah pedagang kaya yang berdagang sampai ke negeri negeri yang jauh dari tempat tinggalnya.
Setelah ia disadarkan oleh beberapa pengalaman berinteraksi dengan penghuni pura yang ditemuinya di satu kawasan wilayah Turki, yang menyebutkan bahwa tuhan itu maha kaya yang akan menganugerahi rezeki kepada setiap hamba-Nya. Maka ia tersadarkan bahwa rezeki itu telah ditetapkan oleh Allah swt sehingga tidak mesti harus berdagang ke negeri yang jauh untuk mendapatkannya.
Begitu juga pengalamannya bertemu seorang budak yang tidak merasa susah di tengah musim paceklik berat, karena meyakini tuannya memiliki lahan dan kebun yang subur. Jika seorang budak tidak gelisah dengan musim paceklik hebat, karena percaya pada tuannya yang kaya raya, maka mengapa seorang hamba mesti khawatir dengan rezekinya yang sudah disiapkan oleh Allah swt Yang Maha Kaya.
Imam al Qusyairy menyebutkan di dalam kitab al Risalah al Qusyairiyah, halaman 496, bahwa nasihat Syekh Syaqiq al Balkhy yang populer adalah, jika seorang hamba ingin menguji hamba yang lain, lihatlah apakah hamba itu, memilih jalan Allah swt yang lurus dan menyelamatkan atau memilih jalan manusia yang bengkok lagi menghinakan.
Ia juga menasihati untuk melihat ketakwaan seorang hamba yang tersimpan dan tersembunyi di dalam batinnya, lihatlah pada tiga hal dari hamba tersebut, yaitu; pertama, lihat dari mana ia memperoleh sesuatu dan bagaimana caranya ia memperoleh sesuatu itu.
Kedua, lihatlah bagaimana cara ia mencegah dirinya dari perbuatan munkar dan maksiat yang keluar dari hawa nafsu buruknya. Ketiga, lihatlah bagaimana cara ia berbicara, berbudi bahasa dan berakhlaq atau tidak, jujur atau berbohong, menista atau bernuansa kearifan. Wallahu’alam




