image

Ta’anni Fil Hadits

Oleh : Abu Chik Diglee

TA’ANNI FIL HADITS artinya adalah kehati hatian di dalam (menyampaikan) hadits.Semangat yang sangat kuat untuk menjaga hadits di kalangan para sahabat Nabi saw., membuat mereka sangat berhati hati di dalam meriwayatkan hadits.Bentuk kehati hatian para sahabat tersebut, terlihat dengan jelas melalui bahasa yang digunakan sahabat, misalnya perkataan “nahwa hadza” (seperti ini) dan “au kamaa qaala”(atau sebagaimana yang dikatakan).

Tabi’in, sering menyaksikan sahabat sahabat Nabi saw gemetar, berkeringat, pucat, dan bergetar suaranya pada saat menyampaikan hadits, dikarenakan adanya rasa kekhawatiran akan keliru atau disebabkan oleh ta’anni fil hadits.Amir ibn Maimun seorang kibaru al tabi’in (tabi’in besar), menyaksikan dan merasakan sendiri keadaan itu di setiap Kamis sore, pada diri Abdullah ibn Mas’ud yang menyampaikan hadits hadits Nabi saw di majelis haditsnya.Dalam rangka kehati hatian para sahabat Nabi saw pada saat meriwayatkan hadits, Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Laisal ‘ilmu katsratal hadits, walakinnal ‘ilma al khasyyatu.” Artinya, “Tolok ukur ilmu seseorang bukanlah banyaknya hadits yang dikuasainya, tetapi tolok ukur ilmunya adalah rasa takutnya kepada Allah swt (lihat Mukhtashar kitab al Mu’ammal fi al radd ila al amr al awwal, halaman, 6).”

Abu Hurairah mengatakan, “Kafaa bil mar’i kadziban an yuhadditsa bikulli ma sami’a.” Artinya, “Cukuplah menunjukkan kedustaan seseorang, jika ia meriwayatkan semua yang didengarnya(lihat Shahih Muslim, juz 1, halaman, 10).” Umar bin Khathab, mengatakan, “Bi hasbil mar’i minal kidzbi an yuhadditsa bi kulli ma sami’a.” Artinya, “Cukup membuktikan kedustaan seseorang jika ia meriwayatkan semua yang didengarnya (lihat Shahih Muslim, juz, 1, halaman, 11).”

Para sahabat nabi saw., membatasi diri dalam periwayatan hadits sebagai perwujudan dari kehati hatian mereka.Mereka hanya meriwayatkan hal hal yang akurat dari yang mereka miliki.Para sahabat sangat mengedepankan kecermatan di dalam meriwayatkan hadits, sehingga mereka terhindar dari penyampaian yang bersifat dusta.

Para sahabat Nabi saw sangat berpegang teguh kepada surat al Hajj, ayat 30 yang berbunyi, “Wajtanibuu qaula al zuuri ” Artinya, “Jauhilah oleh kamu perkataan dusta.” Nabi saw sendiri, telah mengingatkan umatnya melalui sabda beliau, “Inna kidzban ‘alayya laisa kakidzbin ‘ala ahadin. faman kadzaba ‘alayya falyatabawwa’ maq’adahu min al naar.” Artinya, “Berdusta atas namaku, tidak seperti berdusta atas nama seseorang selain aku. Siapapun yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap siaplah tempat duduknya di neraka (lihat Fathul Bariy, juz 1, hal.210).”

Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy, bahwa ia berkata, aku sedang berada di majelis kaum Anshar, tiba tiba datang Abu Musa al Asy’ariy, lalu ia berkata, aku minta izin bertemu Umar tiga kali, tetapi tidak diberi izin.Kemudian aku kembali saja.Lalu Abu Sa’id berkata, mengapa kamu tidak jadi masuk? Abu Musa menjawab, aku sudah minta izin tiga kali, tetapi tidak diberi izin, sehingga aku kembali. Karena rasulullah saw pernah bersabda, “Idzas ta’dzana ahadukum tsalaatsan falam yu’dzan lahu falyarji’.” Artinya, “Jika seseorang di antara kamu meminta izin tiga kali untuk bertamu , tetapi tidak diizinkan, maka hendaknya ia kembali saja.” Terhadap hadits Abu Musa itu, Umar meminta kesaksian dari sahabat lain, dan Ubay bin Ka’ab membenarkan bahwa hadits yang disampaikan oleh Abu Musa itu, adalah apa yang pernah disampaikan oleh Nabi saw.

Setelah membaca, mencermati, dan menghayati, betapa para sahabat begitu berhati hati di dalam menyampaikan dan meriwayatkan hadits, maka kita terpana menyaksikan ada hamba tertentu yang begitu berani menyampaikan dan menyimpulkan hadits tanpa melalui prosedur keilmuan yang benar, bahkan terkadang mengabaikan prinsip ta’anni fil hadits ĺ(kehati hatian di dalam menyampaikan hadits), seolah olah hamba itu, lebih paham hadits dari sahabat Nabi saw., semoga Allah swt selalu membimbing kita, kepada jalan ketawadhu’an dan kehati hatian di dalam menyampaikan hadits.Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Related Posts

Milad HMI - Azzawiy id

Related Posts