Tamakkun halaawatil hawaa artinya adalah meresapnya rasa manis hawa nafsu. Rasa manis hawa nafsu yang meresap ke dalam batin para hamba, merupakan al da’ (penyakit) yang sukar diobati (al ‘udhaal). Hati para hamba itu, hakikatnya adalah tempat iman keyakinan dan ma’rifat bersemayam, dan semua itu adalah obat bagi tamakkun halaawatil hawaa (meresapnya rasa manis hawa nafsu).
Ibnu Atha’illah al Sakandary, di dalam kitabnya al Hikam mengatakan, jika kecintaan para hamba terhadap dunia, dan sikap memperturuti hawa nafsu syahwat telah menutupi batin para hamba, maka sulit untuk mengobatinya.
Rasulullah Saw bersabda: “Hubbuddunya ra’su kulli khathii’at.” Artinya, cinta kepada dunia itu, adalah kepala dari segala dosa. Banyak para hamba terjerumus ke dalam lumpur dosa dan kemaksiatan, dikarenakan kecintaannya kepada dunia sangat berlebihan.
Ibnu Atha’illah mengatakan, “La yakhruju al syahwata minal qalbi illa khaufun muz’ijun au syauqun muqliqun. “Artinya, Tidak dapat mengeluarkan (menghalau) hawa nafsu syahwat dari dalam batin, kecuali rasa takut yang menggetarkan (terhadap Allah Swt) atau rasa rindu untuk senantiasa taat kepada Allah Swt yang menggelisahkan.
Hawa nafsu syahwat yang telah tamakkun (meresap), memiliki daya magis yang sangat kuat untuk menggerus kesadaran iman para hamba agar senantiasa tetap tunduk dan patuh kepada Allah Swt. Oleh karenanya, perlu Mengadirkan rasa takut yang menggetarkan di dalam batin para hamba terhadap kerasnya azab dan siksa Allah Swt., bagi para hamba yang durhaka kepada Allah swt., dikarenakan hidup terbenam di dalam kubangan lumpur tamakkun (meresap) nya rasa manis hawa nafsu di dalam batin. Diharapkan kepada para hamba, hendaknya pandai pandai meniti buih kehidupan dunia, karena jika terlena, maka tamakkun halaawatil hawa (meresapnya rasa manis hawa nafsu), akan membuat kehidupan para hamba kehilangan makna kemanusiaan dan kekhalifahannya, di samping itu, siksaan yang teramat pedih menantinya di alam kehidupan akhirat kelak. Na’udzubillahi min dzaalik. Wallahu’alam




