Abu Chik Diglee

image

The Idel Breaker

Oleh : Abu Chik Diglee

THE IDEL BREAKER artinya adalah “sang penghancur berhala.”Gelar itu disematkan kepada Mahmud bin Sabatapkin atau lebih dikenal dengan julukan Mahmud al Ghaznawi.Ia adalah putra sulung dari Emir Sabatapkin, Emir ketiga dari dinasti Ghaznawiyah.

Dinasti Ghaznawiyah didirikan oleh al Tapkin pada tahun 977 .M. dan berakhir pada tahun 1044 M.Nama Dinasti Ghaznawiyah diambil dari nama kota, yaitu Ghazna yang sekarang masuk dalam wilayah Afghanistan.

The Idel Breaker (Sang penghancur berhala) sekaligus Emir kelima dari Dinasti Ghaznawiyah.Ia adalah Emir yang berasal dari keturunan budak Turki, karena ayahnya Sabatapkin, Emir ketiga Dinasti Ghaznawiyah adalah budak dari Emir kedua Dinasti Ghaznawiyah, yaitu Emir Abu Ishaq bin Altapkin.Karena ia tidak punya putra mahkota, maka diangkatlah Sabatapkin budak Turki yang
Mengabdi kepadanya, sebagai Emir penggantinya.Gelar The Idel Breaker (Sang penghacur berhala), disematkan kepada Emir Mahmud al Ghaznawi, karena ia yang menaklukkan semua raja di tanah Hindustan dan mengislamkan India.

Dalam perkembangannya, Dinasti Ghaznawiyah memiliki wilayah yang sangat luas.Wilayah kekuasaannya membentang dari Iran bagian Timur, Afghanistan, Khurasan, wilayah Jabal dan Ray yang sebelumnya dikuasai Dinasti Buwaihiyah, kota Quzwayn, dan seluruh tanah Hindustan, yang ditaklukkannya secara bertahap, dalam kurun waktu dua puluh empat tahun. Emir Mahmud al Ghazwani memulai penguasaannya pada tanah Hindustan dengan merebut Punjab, Kangra, Balujistan, Delhi, Mathura, Kalighar, Sind, Lahore, Makran, Kirman, dan Ghuzarat.

The Idel Breakir (Sang penghancur berhala), Emir Mahmud al Ghazwani, menjadikan kota Ghazna sebagai tempat pertahanan, sekaligus tempat berkumpulnya para ulama, ahli hukum,sastrawan,filosof, dan para sufistik.Ia juga membangun Istana Shal di Afghanistan, taman Sad Hasan,Istana Fazuri, Masjid Jami’ Ghazna yang sangat masyhur dengan kemegahan dan keindahannya, lalu dikenal dengan sebutan Masjid Arus al Falaq.

Setelah The Idel Breaker atau Emir Mahmud  al Ghazwani wafat, Dinasti Ghaznawiyah, masih bisa bertahan sampai anak cucunya sebanyak 14 generasi. Jumlah total  Emir penguasa Dinasti Ghaznawiyah, ada 17 orang, dan yang terakhir bertahta adalah Emir Khasr Malik(555-582.H).

Tokoh intelektual dan saintis Muslim yang muncul dari Dinasti Ghaznawiyah, adalah Abu Rayhan Muhammad bin Ahmad al Biruni, ahli matematika, fisika,kedokteran, dan astronomi. Ada juga al Firdaus ahli sastra dan tokoh kebangkitan sastra Persia, dan beberapa nama lain, seperti al Arraqi, al Marasyi, dan muhaditsun al Baihaqi, serta penyair Arab terkenal yang bernama Badi’ al Zaman al Hamdani.

Ibarat air laut,  ada rembulan purnama yang mendatangkan air pasang, dan adapula gelombang dan ombak besar yang mengikis pantai, begitu pula nasib perjalanan Dinasti Ghaznawiyah, setelah The Idel Breakir (Sang penghancur berhala) tidak ada lagi, maka Dinasti itupun, perlahan lahan mengalami kemunduran, melemah, sakit sakitan dan akhirnya “hilang sirna kertaning bhumi.” Semuanya masih dalam bingkai berpikir teologis, sesuai firman Allah swt di dalam surat al ‘Araf (7), ayat 34, yang menyebutkan: “Walikulli ummatin  ajalun, faidza jaa’a ajaluhum la yasta’khiruuna saa’atan wala yastaqdimuun.” Artinya, “Setiap ummat ada batas waktunya, maka jika batas waktu mereka telah tiba, tidak dapat dimundurkan walaupun sesaat dan tidak pula dapat dimajukan, walaupun sesaat. “Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru