Abu Chik Diglee

image

Yamradhu Maradhan

Oleh : Abu Chik Diglee

Yamradhu maradhan, secara sederhana dapat diartikan dengan terkena suatu penyakit atau sedang menderita sakit. Para hamba di dalam mengarungi kehidupan ini, tentunya pernah merasakan terkena suatu penyakit, terlepas apakah penyakit itu mendatangkan perasaan penderitaan yang hebat atau hanya penderitaan yang ringan. Di dalam ajaran Islam, rasa sakit yang diderita seorang hamba karena penyakit
nya, tidak sepenuhnya duka ataupun nestapa, ada nilai nilai penghapusan dosa dan pengampunan yang menyertainya.

Islam mengajarkan, bersama kesulitan ada kemudahan, dan bersama kemudahan melekat pula kesulitan. Rasa suka dan wujud derita di dalam ajaran Islam, seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, karena jika dipisahkan, ia akan kehilangan makna. Para hamba yang sakit, sebenarnya sedang dibentuk dan diajarkan untuk dapat merasakan dan mengetahui nikmatnya sehat. Begitu juga hamba yang sehat, sedang dibentuk untuk dapat memahami rasa sakit, sehingga dapat menjaga dan menghargai eksistensi dari keduanya, yaitu sehat dan sakit itu sendiri.

Imam al Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah, sebagaimana yang termaktub di dalam kitab al Adab al Mufrad, halaman 276, nomor hadits 506, dimana Nabi saw bersabda: “Ma ashaaba al mu’minu min syaukatin famaa fauqahaa fahua kaffaaratun.” Artinya, “Apapun yang menimpa orang orang yang beriman, baik duri atau yang lebih besar dari itu, maka hal tersebut adalah pelebur dosa.”

Di dalam hadits yang lain, riwayat imam al Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda yang artinya, “Seorang muslim yang terkena duri di dunia, dan ia mengikhlaskannya, maka oleh sebab duri itu, dosa dosanya akan dihapuskan pada hari kiamat.”

Imam al Bukhari juga meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah, dimana Nabi saw bersabda: “Tidak ada orang beriman laki laki dan perempuan, begitu juga tidak ada orang Islam laki laki dan perempuan yang terkena suatu penyakit, kecuali Allah swt akan menghapus dosa dosanya, oleh sebab penyakit yang dideritanya tersebut.”

Bagi para hamba yang sedang merasakan penderitaan rasa sakit, ikhlas dan bersabarlah, karena derita sakit itu, merupakan salah satu jalan untuk terhapusnya noda diri dan dosa dosa. Dan jika-pun ajal datang menjelang, karena derita sakit itu, maka “kepulangan” itu, adalah “kepulangan” seorang hamba yang telah bersih dari lumpur noda dan karat dosa. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Abu Chik Diglee

Tgk. Dr. H. Zulkarnain, MA

Abu Chik Diglee, nama lengkapnya Tgk. H. Dr. Zulkarnain, MA. Selain memimpin Majelis Ratib Haddadiyah, Abu Chik Diglee menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluargan Islam (HKI) Pascasarjana IAIN Langsa.

Popular Sinopsis Abu Chik Diglee

Post Terbaru