YASYRUQU QALBUN artinya adalah “terang hati atau hati yang tercerahkan.”Karena” enlightenment” (pencerahan), akan melahirkan Age of enlightenment (era pencerahan) baru, yang di dalam bahasa Jerman, disebut dengan aufklarung. Dalam bahasa Prancis, disebut dengan renaissance (era pembaharuan), yaitu gerakan kebudayaan yang berakar pada nilai nilai spiritualitas agama yang terperbaharui di dalan jiwa individual maupun kolegial komunal, seperti yang ditulis sejarawan Prancis, Jules Michelet(1855),di dalam bukunya”Histoire de France.”
Syekh Abu Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Ahmad bin Isa bin al Husein bin Atha’illah al Iskandary, menerangkan di dalam kitab al Hikam, “Bagaimana akan terang hati seorang hamba yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa batinnya, atau bagaimana ia akan bertaqarrub kepada Allah dengan sungguh sungguh, jika batin masih terbelenggu syahwat hawa nafsunya. Atau bagaimana seorang hamba dapat khusyu’ dan hudhur batinnya, dalam beribadah kepada Allah swt., jika dirinya belum terbebas dari kelalainnya. Atau bagaimana mengharap akan mengerti rahasia rahasia yang halus, lembut, dan mendalam, jika belum benar benar istighfar dan bertobat dari kekeliruan dan dosa dosa.”
Jika seorang hamba berkeinginan untuk diajarkan ilmu oleh Allah swt., maka hendaknya ia bertaqwa dan bertaqarrub kepada Allah swt.Karena Allah swt berfirman di penghujung surat al Baqarah (2), ayat 282 yang artinya, “Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah yang akan mengajarkanmu. “Kunci lain untuk mendapatkan ilmu dari Allah swt., adalah mengamalkan ilmu yang telah dimiliki.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Ahmad bin Abil Hawari dari gurunya Abu Sulaiman, Nabi saw bersabda, “Man ‘amila bima ‘alima waratsahullahu ‘ilma ma lam ya’lam.” Artinya, “Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.”
Pada suatu hari imam Ahmad bin Hanbal ketemu dengan Ibnu Abil Hawari, ia mengatakan bahwa gurunya Abu Sulaiman mengatakan, “Jika hati para hamba benar benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya jiwanya akan terbang ke alam malakut, kemudian akan kembali membawa berbagai ilmu hikmah tanpa perantaraan guru.” Syekh Ahmad Ibnu ‘Atha’illah mengatakan, “Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi jiwa yang merindukan kedekatan kepada Allah swt, selain bertahanuts (menyendiri) untuk masuk ke medan tafakur (kontemplasi).”
Salah satu yang pantas untuk kita kontemplasikan adalah,”Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan diri, sebab setiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak akan pernah sempurna buahnya.”Di dalam hadits riwayat imam al Thabrani, Nabi saw bersabda,”Man tawadha’a rafa’ahullahu, waman takabbara wadha’ahullahu.” Artinya,”Siapa yang merendahkan diri,maka Allah swt akan memuliakannya.
Dan siapa yang menyombongkan diri,maka Allah swt akan menghinakannya. “Syekh Ibrahim bin Adham mengatakan,”Ma shadaqallaha man ahabba al syuhrata.”Artinya,”Tidak benar bertujuan karena Allah, siapapun yang ingin kemasyhuran.”
Di dalam hadits riwayat imam al Hakim, dari Mu’adz bin Jabal, Nabi saw bersabda, “Allah menyukai hamba yang taqwa yang tersembunyu(al Atqiyaa’ al Ashfiyaa’), yang bila ia tidak ada tidak dicari, dan jika ia hadhir tidak dikenal dan diabaikan.Hati mereka seperti lentera hidayah (Quluubuhum Mashaabihu al hudaa), mereka terhindar dari segala kegelapan rintangan.”
Mudah mudahan kita dapat menanamkan diri, ke dalam tanah kerendahan diri dan lembah kerendahan hati.Mudah mudahan kita menjadi bahagian dari para hamba yang taqwa yang tersembunyi, sehingga hati kita menjadi “lentera hidayah.”
Mudah mudahan kita tidak meletakkan dunia di dalam lensa batin, tapi cukup hanya sekedar ada dalam genggaman tangan saja.Dan semoga pula batin kita adalah “yasyruqu qalbun” (terang hati) yang lawami'(limpahan terangnya menerangi diri sendiri dan orang lain).Wallahu’alam




